
“MENGINGAT KARYA TUHAN, BERSYUKUR
DAN MENYEMBUHKAN LUKA”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Mazmur 77
PENGANTAR :
Setiap manusia pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada luka yang terlihat oleh orang lain, tetapi ada juga luka yang tersembunyi jauh di dalam hati. Ada orang yang tersenyum di hadapan banyak orang, tetapi menangis ketika sendirian. Ada keluarga yang terlihat baik-baik saja, tetapi sesungguhnya sedang bergumul dengan persoalan ekonomi, konflik rumah tangga, kekecewaan, kehilangan orang yang dikasihi, atau hubungan yang rusak.
Kadang-kadang, dalam pergumulan yang berat, kita berdoa kepada Tuhan, tetapi seolah-olah tidak mendapatkan jawaban. Kita bertanya, “Tuhan, sampai kapan saya harus mengalami semua ini? Apakah Tuhan masih mengasihi saya? Mengapa pertolongan Tuhan terasa begitu jauh?”
Pergumulan seperti ini juga dialami oleh pemazmur dalam Mazmur 77. Ia tidak menyembunyikan kesedihannya. Ia berseru kepada Tuhan, mengeluh, mengingat masa lalu, bahkan mempertanyakan apakah kasih setia Tuhan telah berakhir. Namun, pemazmur tidak berhenti pada kesedihan dan pertanyaan. Ia mulai mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan pada masa lampau, khususnya karya Tuhan ketika membebaskan umat Israel dari Mesir dan menuntun mereka melewati Laut Teberau. Dari pengalaman pemazmur, kita belajar bahwa mengingat karya Tuhan tidak selalu langsung menghilangkan luka, tetapi dapat menolong kita menemukan kembali pengharapan, bersyukur, dan melangkah menuju pemulihan.
Melalui Mazmur 77, ada tiga kebenaran rohani yang akan kita renungkan.
1. Mengakui luka dan membawa pergumulan kepada Tuhan
Mazmur 77:2–11 >>> Pemazmur memulai mazmur ini dengan seruan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Dalam kesesakannya, ia mencari Tuhan, mengangkat tangannya, dan berdoa sepanjang malam. Namun, jiwanya tetap merasa gelisah. Ayat 4 menggambarkan pergumulannya ketika ia mengingat Allah, tetapi justru mengeluh dan merasa lemah. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa orang beriman pun dapat mengalami kesedihan, kebingungan, dan kelelahan batin. Iman bukan berarti kita tidak pernah menangis. Percaya kepada Tuhan bukan berarti kita harus selalu terlihat kuat.
Pemazmur memperlihatkan bahwa kita boleh datang kepada Tuhan dengan hati yang terluka. Kita boleh menyampaikan pertanyaan, kegelisahan, dan air mata kita dalam doa. Ada tiga sikap yang dapat kita pelajari: kesatu: jujur terhadap keadaan diri sendiri. Jangan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika hati sedang terluka. Kedua: membawa pergumulan kepada Tuhan. Jangan menjauh dari Tuhan ketika mengalami kesulitan. Justru dalam keadaan itulah kita membutuhkan kehadiran-Nya. Ketiga: memberi ruang bagi proses pemulihan. Luka batin tidak selalu sembuh dalam satu malam. Ada proses doa, penerimaan, pengampunan, dukungan sesama, dan langkah-langkah nyata yang perlu dijalani.
Kadang-kadang luka yang paling dalam justru berasal dari orang-orang terdekat: pasangan hidup, orang tua, anak, saudara, sahabat, bahkan sesama anggota gereja. Kata-kata yang menyakitkan, pengkhianatan, perlakuan tidak adil, dan kekecewaan dapat membekas lama di hati. Bawalah kepada Tuhan. Carilah pertolongan yang tepat ketika luka terasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Iman yang dewasa bukanlah iman yang menyangkal luka, melainkan iman yang berani membawa luka itu ke hadapan Tuhan.
2. Mengingat karya Tuhan untuk menumbuhkan kembali rasa syukur >>> Mazmur 77:12–13. Pemazmur kemudian mengambil keputusan penting. Dalam Mazmur 77:12, ia berkata bahwa ia hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan mengingat keajaiban-keajaiban-Nya pada zaman dahulu. Perhatikan perubahan ini. Sebelumnya, pemazmur lebih banyak berbicara tentang kesesakan dan kegelisahannya. Sekarang, ia mulai mengarahkan pikirannya kepada karya Tuhan. Bukan berarti persoalannya langsung selesai. Bukan berarti semua pertanyaannya sudah terjawab. Namun, ia memilih untuk tidak hanya memandang penderitaan yang sedang dialaminya. Ia juga mengingat siapa Tuhan dan apa yang telah dilakukan-Nya.
Mengapa mengingat karya Tuhan itu penting? Kesatu: karena ingatan akan karya Tuhan menolong kita melihat kehidupan secara lebih utuh. Ketika mengalami masalah, kita mudah berfokus pada apa yang hilang, apa yang gagal, dan apa yang belum kita terima. Kita lupa bahwa ada banyak hal yang telah Tuhan berikan dan kerjakan dalam kehidupan kita. Kita mungkin pernah melewati masa sulit dan menemukan kekuatan untuk bertahan. Kita mungkin pernah mengalami pertolongan melalui keluarga, sahabat, jemaat, atau orang-orang yang Tuhan hadirkan pada waktu yang tepat. Kedua: mengingat karya Tuhan menolong kita menyadari bahwa kita tidak berjalan sendirian. Pemazmur mengingat bagaimana Tuhan bertindak dalam sejarah umat-Nya. Tuhan yang dahulu menyelamatkan Israel adalah Tuhan yang tetap layak dipercaya. Bagi kita, mengingat karya Tuhan bukan berarti menganggap bahwa semua masalah pasti selesai sesuai keinginan kita. Sebaliknya, kita belajar bahwa di tengah keadaan yang belum berubah, kita tetap dapat berpegang pada kesetiaan Tuhan. Ketiga: rasa syukur mengubah cara kita memandang kehidupan. Bersyukur bukan berarti menyangkal penderitaan. Bersyukur juga bukan berarti kita tidak boleh mengeluh atau menangis. Bersyukur berarti mengakui bahwa di tengah segala keterbatasan, masih ada kebaikan Tuhan yang patut kita kenang. Kita dapat bersyukur atas napas kehidupan, kesempatan untuk memperbaiki diri, keluarga yang masih dapat kita kasihi, jemaat yang mendukung, dan anugerah Tuhan yang menopang kita setiap hari.
Jangan biarkan luka hari ini menghapus seluruh ingatan tentang kebaikan Tuhan pada masa lalu. Ketika hati berkata, “Saya tidak sanggup lagi,” ingatlah pertolongan Tuhan yang pernah menguatkan kita. Ketika kita merasa sendirian, ingatlah bahwa Tuhan dapat bekerja melalui kehadiran orang lain. Ketika kita kecewa, ingatlah bahwa kegagalan dan penderitaan bukanlah keseluruhan cerita hidup kita. Orang yang mengingat karya Tuhan memiliki alasan untuk tetap berharap dan belajar bersyukur, sekalipun ia masih berada dalam pergumulan.
3. Mengalami pemulihan dengan mempercayai jalan Tuhan >>> Mazmur 77:14–21. Pada bagian akhir, pemazmur mengingat kuasa Tuhan yang membebaskan umat Israel dari Mesir. Ia mengenang bagaimana Tuhan memimpin umat-Nya melewati laut, sekalipun jalan yang mereka hadapi tampak menakutkan. Ayat 20 menyatakan bahwa jalan Tuhan melewati laut dan jejak-Nya melewati air yang besar, tetapi bekas langkah-Nya tidak kelihatan. Gambaran ini sangat indah. Tuhan memimpin umat-Nya, sekalipun jejak-Nya tidak selalu dapat dilihat dengan jelas oleh manusia.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Ada saat-saat ketika kita tidak memahami jalan Tuhan. Kita tidak mengerti mengapa suatu peristiwa terjadi, mengapa pemulihan membutuhkan waktu, atau mengapa doa kita belum dijawab sebagaimana yang kita harapkan. Namun, kita dipanggil untuk tetap berjalan dalam iman.
APLIKASI
Bagaimana mengingat karya Tuhan dapat menolong menyembuhkan luka?
Kesatu, kita belajar melepaskan beban yang terus-menerus mengikat hati. Ada orang yang bertahun-tahun hidup dalam kepahitan karena terus mengingat kesalahan orang lain. Ada keluarga yang hubungannya rusak karena tidak ada yang bersedia memulai percakapan. Ada orang yang kehilangan sukacita karena terus menyalahkan dirinya sendiri atas masa lalu.
Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan atau menganggap luka itu tidak penting. Mengampuni adalah proses menyerahkan keadilan kepada Tuhan dan belajar untuk tidak membiarkan kepahitan menguasai seluruh kehidupan kita. Dalam situasi yang tidak aman, pengampunan juga tidak berarti harus kembali ke dalam hubungan yang membahayakan. Batasan yang sehat dan perlindungan diri tetap diperlukan.
Kedua, kita belajar memperbaiki hubungan yang rusak. Jika kita yang melakukan kesalahan, beranilah mengakuinya dan meminta maaf. Jika kita telah melukai orang lain, jangan hanya berkata, “Lupakan saja,” tetapi tunjukkan pertobatan melalui perubahan sikap. Dalam keluarga, pemulihan dapat dimulai dengan mendengarkan tanpa menghakimi, berbicara dengan jujur, meminta maaf dengan tulus, dan membangun kembali kepercayaan secara bertahap. Dalam gereja, pemulihan dapat dimulai ketika kita berhenti menyebarkan cerita yang menyakiti, belajar memahami pergumulan sesama, dan mengutamakan kasih dalam menyelesaikan perbedaan.
Ketiga, kita percaya bahwa Tuhan tetap menuntun kita, meskipun jalan ke depan belum jelas. Mazmur 77 tidak memberikan gambaran bahwa semua persoalan pemazmur langsung selesai. Namun, mazmur ini mengarahkan perhatian kita kepada Tuhan yang berkuasa dan yang memimpin umat-Nya. Pemulihan terkadang berlangsung secara perlahan. Ada luka yang membutuhkan waktu, pendampingan pastoral, bantuan profesional, dan dukungan komunitas yang dapat dipercaya.
Jangan malu mencari pertolongan. Tuhan dapat memakai doa, firman-Nya, keluarga, sahabat, pendeta, konselor, dan tenaga profesional sebagai bagian dari proses pemulihan.
Bagaimana kita menerapkan pesan Mazmur 77 dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan gereja?
- Bangun kebiasaan mengingat karya Tuhan
Luangkan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, dan menuliskan pengalaman tentang pertolongan Tuhan yang pernah kita alami. Jadikan ingatan akan kesetiaan-Nya sebagai sumber kekuatan.
- Belajar bersyukur di tengah keterbatasan
Jangan hanya menghitung apa yang belum kita miliki. Belajarlah menghargai anugerah sederhana dan kehadiran orang-orang yang mendukung kehidupan kita.
- Mulailah langkah pemulihan
Jika ada hubungan yang rusak, ambillah langkah yang bijaksana untuk berdamai. Beranilah meminta maaf, bersedia mendengarkan, dan memberi kesempatan bagi perubahan yang nyata.
- Jadikan gereja sebagai tempat yang menyembuhkan
Gereja hendaknya menjadi komunitas yang mau mendengarkan, menopang mereka yang terluka, mendoakan yang bergumul, serta menolong tanpa cepat menghakimi.
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang membawa luka lama. Ada yang terluka karena perkataan anggota keluarga, kecewa karena harapan yang tidak tercapai, berduka karena kehilangan orang yang dikasihi, atau lelah karena persoalan hidup yang tidak kunjung selesai.
Mazmur 77 mengajak kita melihat perjalanan iman yang jujur. Pemazmur memulai dengan kesesakan, pergumulan, dan pertanyaan. Namun, ia kemudian mengambil keputusan untuk mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan karya-Nya yang ajaib. Firman Tuhan hari ini tidak meminta kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Firman Tuhan mengajak kita datang kepada-Nya, mengingat karya-Nya, dan menemukan kekuatan untuk melangkah kembali. Amin.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Sabtu 31 Oktober 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
