“ALLAH MEMELIHARA BUMI MILIK-NYA:

UMAT DIPANGGIL MENJAGANYA”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Mazmur 65:1–14

PENGANTAR :

Kita hidup di tengah alam ciptaan Tuhan yang begitu indah. Kita menikmati udara untuk bernapas, air untuk diminum, tanah untuk bercocok tanam, laut yang menyediakan ikan, serta hutan yang memberikan kehidupan bagi berbagai makhluk. Semuanya merupakan anugerah Allah bagi kehidupan manusia.

Namun, ada sebuah kenyataan yang memprihatinkan. Bumi yang begitu indah dan kaya dengan sumber daya alam sedang menghadapi berbagai persoalan lingkungan. Hutan ditebang tanpa memperhatikan kelestariannya, sampah dibuang sembarangan, sungai dan laut tercemar, tanah mengalami kerusakan, dan berbagai bencana ekologis terjadi akibat perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Di tengah kenyataan ini, kita perlu bertanya: Apakah bumi ini milik manusia sehingga manusia bebas memperlakukannya sesuka hati? Tidak! Bumi adalah milik Allah. Manusia hanyalah ciptaan yang dipercayakan tanggung jawab untuk mengelola dan memeliharanya.

Mazmur 65 mengajak kita melihat bahwa Allah sebagai Pencipta dan juga yang terus memelihara seluruh ciptaan-Nya. Allah memberikan hujan, menyuburkan tanah, menyediakan makanan, dan membuat bumi menghasilkan kehidupan. Melalui Mazmur 65:1–14, ada empat pesan penting yang perlu kita renungkan.

1.  Allah adalah sumber kehidupan dan pemelihara seluruh ciptaan (Mzm. 65:1–5) >>> Pemazmur mengawali Mazmur 65 dengan pujian kepada Allah. Allah dipuji karena mendengarkan doa, mengampuni pelanggaran, dan memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk datang mendekat kepada-Nya. Ayat 5 menggambarkan kebahagiaan orang yang dipilih dan dibawa Allah untuk diam di pelataran-Nya. Hal ini memperlihatkan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah. Kita tidak dapat hidup tanpa kasih dan pemeliharaan-Nya.

Allah memberikan kehidupan bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh ciptaan. Matahari yang terbit, hujan yang turun, tanah yang menghasilkan tumbuhan, dan laut yang menyediakan makanan merupakan bagian dari pemeliharaan Allah.

Apa maknanya bagi kita? Kesatu, kita harus menyadari bahwa alam bukan sekadar sumber keuntungan ekonomi, melainkan anugerah Allah yang harus dihargai. Kedua, kita harus membangun sikap bersyukur atas setiap pemberian Tuhan. Jangan sampai kita hanya menikmati hasil alam, tetapi tidak peduli terhadap kelestariannya. Ketiga, iman kepada Allah harus terlihat dalam sikap kita terhadap ciptaan-Nya.

Tidak masuk akal apabila seseorang rajin beribadah dan memuji Tuhan, tetapi pada saat yang sama merusak lingkungan yang merupakan karya tangan Tuhan. Oleh karena itu, orang yang sungguh-sungguh bersyukur kepada Allah akan belajar menghargai dan memelihara kehidupan yang Allah berikan.

2.  Allah berkuasa atas alam semesta dan seluruh kekuatannya (Ayat 6–9) >>> bagian ini menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang berkuasa dan mengendalikan alam semesta. Allah menegakkan gunung-gunung dengan kekuatan-Nya. Allah meredakan gemuruh laut dan gelombang-gelombangnya. Allah juga mengatur pergantian siang dan malam. Bagian ini mengajarkan bahwa alam semesta bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seluruhnya berada dalam kuasa dan pemeliharaan Allah.

Manusia sering merasa dirinya sangat kuat karena memiliki teknologi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan mengolah sumber daya alam. Tetapi manusia harus menyadari bahwa kekuatannya terbatas. Kita dapat membangun bendungan, tetapi tidak dapat mengendalikan seluruh hujan. Kita dapat membuat teknologi canggih, tetapi tidak dapat menciptakan kehidupan dari ketiadaan. Ketika manusia merusak keseimbangan alam, akibatnya dapat kembali mengancam kehidupan manusia sendiri.

Apa maknanya bagi kita? Jangan bersikap sombong seolah-olah manusia adalah penguasa mutlak atas bumi. Jangan mengeksploitasi alam hanya demi kepentingan pribadi dan keuntungan sesaat. Bangunlah kesadaran bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan seluruh ciptaan Tuhan. Kita perlu memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga persoalan iman dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta. Oleh karena Allah adalah Penguasa alam semesta maka manusia harus mengelola alam dengan rendah hati, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3.  Allah memelihara bumi dengan memberikan kesuburan dan kebutuhan hidup (Ay. 10–12) >>> Di bagian ini, Pemazmur sedang menggambarkan Allah yang bekerja melalui alam untuk menyediakan kebutuhan hidup manusia. Hal ini ada dalam penggambaran mengenai Allah yang mengairi tanah, membasahi alur-alur bajaknya, meratakan tanah, dan menyuburkannya dengan hujan (ay. 10); Allah yang memahkotai tahun dengan kebaikan-Nya sehingga jejak-Nya mengeluarkan lemak (ay. 11); bahkan padang-padang gurun menjadi subur dan bukit-bukit bersukacita (ay. 12).

Lihatlah bagaimana proses kehidupan berlangsung: dimulai dengan hujan turun membasahi tanah. Kemudian tanah menerima air dan menjadi subur. Selanjutnya, benih bertumbuh dan tumbuhan menghasilkan buah. Manusia dan makhluk hidup lainnya memperoleh makanan. Semua itu merupakan tanda pemeliharaan Allah.

Namun, ada hal yang perlu kita renungkan: Bagaimana mungkin kita mengharapkan tanah tetap subur apabila manusia terus merusaknya? Bagaimana mungkin kita mengharapkan air bersih apabila sungai dan sumber air terus dicemari? Kita tidak dapat berdoa meminta berkat Tuhan, tetapi pada saat yang sama menghancurkan sumber kehidupan yang telah Tuhan percayakan.

Oleh karena itu, sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk:

  1. Menjaga sumber-sumber air agar tetap bersih dan tidak tercemar.
  2. Menggunakan tanah secara bijaksana dan tidak merusak kesuburannya.
  3. Menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan.
  4. Mengurangi penggunaan plastik dan membuang sampah pada tempatnya.
  5. Mengembangkan pertanian yang memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Kita harus mengubah pola pikir dari hanya mengambil hasil alam menjadi ikut memelihara dan memperbarui alam. Pemeliharaan Allah harus mendorong manusia untuk ikut bertanggung jawab menjaga sumber-sumber kehidupan.

4.  Seluruh ciptaan bersukacita, manusia dipanggil menjaga keharmonisan alam (Ay. 13–14) >>> Bagian ini menggambarkan padang-padang rumput, lembah-lembah, kawanan ternak, dan tanaman yang semuanya berada dalam suasana sukacita. Gambaran ini menunjukkan keindahan kehidupan ketika alam berada dalam keadaan yang baik dan memberikan manfaat bagi seluruh ciptaan. Padang rumput menyediakan makanan bagi ternak. Lembah menghasilkan tanaman. Tanah memberikan hasil bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, Allah menghendaki kehidupan yang penuh kelimpahan dan keharmonisan.

Namun, keharmonisan itu dapat terganggu ketika manusia bertindak serakah dan tidak bertanggung jawab. Ketika hutan dirusak, sumber air tercemar, dan sampah menumpuk, bukan hanya alam yang menderita, tetapi manusia juga mengalami akibatnya. Karena itu, menjaga lingkungan merupakan panggilan iman yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, sebagai keluarga, gereja, dan masyarakat , apa yang harus dilakukan ? Keluarga harus mengajarkan anak-anak mencintai lingkungan sejak dini. Gereja harus menjadi teladan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat harus bekerja sama menjaga hutan, tanah, sungai, dan laut. Setiap orang harus memulai perubahan dari dirinya sendiri. Gereja tidak boleh hanya berbicara tentang keselamatan manusia, tetapi juga harus menunjukkan kepedulian terhadap seluruh ciptaan Allah. Oleh karena itu, umat yang hidup dalam sukacita pemeliharaan Allah harus menjadi berkat bagi seluruh ciptaan dengan menjaga keharmonisan alam.

APLIKASI

Mazmur 65:1–14 mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber kehidupan dan pemelihara seluruh ciptaan. Allah memberikan hujan, menyuburkan tanah, menyediakan makanan, dan menjadikan bumi sebagai tempat kehidupan bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Namun, pemeliharaan Allah tidak boleh menjadi alasan bagi manusia untuk bertindak semaunya terhadap alam. Sebaliknya, karena Allah memelihara bumi, maka manusia yang menerima anugerah kehidupan dipanggil untuk ikut menjaga dan merawatnya.

Bagaimana kita mewujudkan panggilan untuk menjaga bumi milik Allah? Ada lima langkah praktis yang dapat kita lakukan.

  1. Mulailah dari diri sendiri.

Jangan membuang sampah sembarangan, hemat menggunakan air, kurangi penggunaan plastik, dan biasakan menjaga kebersihan lingkungan.

  1. Mulailah dari keluarga.

Ajarkan anak-anak mencintai alam, menanam pohon, merawat tanaman, dan tidak merusak lingkungan.

  1. Mulailah dari gereja.

Gereja harus menjadi contoh dalam menjaga lingkungan. Setiap kegiatan gerejawi perlu memperhatikan kebersihan, pengelolaan sampah, dan penggunaan sumber daya secara bijaksana.

  1. Mulailah dari masyarakat.

Bangun kerja sama membersihkan lingkungan, menjaga sumber air, menanam pohon, dan mencegah kerusakan alam.

  1. Bangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman.

Kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya program sesaat atau kegiatan seremonial Bulan Lingkungan GMIT. Ini adalah tanggung jawab yang harus dilakukan terus-menerus. Kita tidak cukup hanya membuat spanduk tentang cinta lingkungan, tetapi harus memperlihatkan cinta itu melalui tindakan nyata.

Oleh karena itu, melalui perayaan Bulan Lingkungan GMIT 2026, marilah kita memperbarui komitmen iman kita. Jangan hanya menjadi orang yang menikmati keindahan alam, tetapi jadilah orang yang ikut menjaga keindahan alam. Jangan hanya meminta hujan dan kesuburan dari Tuhan, tetapi jagalah tanah, air, dan hutan yang menjadi sumber kehidupan. Jangan hanya berdoa agar lingkungan kita menjadi baik, tetapi jadilah bagian dari perubahan itu.

Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga, gereja, dan masyarakat. Sebab ketika kita menjaga bumi, kita sedang menghargai karya Allah dan memelihara kehidupan bagi generasi yang akan datang. Bumi adalah milik Allah, bukan milik kita untuk dirusak, tetapi titipan-Nya untuk dijaga! Amin.

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 01 Nopember 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *