
“Mengerjakan Pekerjaan Allah di Tengah Penderitaan”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Yohanes 9:1-7
PENGANTAR :
Kita hidup di tengah dunia yang tidak pernah lepas dari penderitaan. Ada orang yang menderita karena sakit penyakit, kemiskinan, kehilangan pekerjaan, persoalan keluarga, ketidakadilan, kegagalan, bahkan karena berbagai persoalan kehidupan yang datang silih berganti. Ketika melihat seseorang mengalami penderitaan, sering muncul pertanyaan: Mengapa hal ini terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan orang baik mengalami penderitaan? Apakah penderitaan merupakan hukuman Tuhan atas dosa seseorang?
Pertanyaan seperti ini juga muncul dalam bacaan kita, Yohanes 9:1–7. Ketika Yesus sedang berjalan, Ia melihat seorang yang buta sejak lahir. Para murid kemudian bertanya kepada Yesus: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Pertanyaan tersebut memperlihatkan cara pandang manusia yang sering menghubungkan penderitaan dengan kesalahan atau dosa seseorang. Namun, Yesus memberikan jawaban yang berbeda. Ia tidak membiarkan para murid terjebak dalam perdebatan tentang siapa yang bersalah. Sebaliknya, Yesus mengarahkan perhatian mereka kepada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan melalui kehidupan orang tersebut.
Pendalaman Teks
Mendalami teks ini, ada beberapa point penting sebagai sorotan utama dalam pemberitaan, yakni :
1. Jangan Menghakimi Orang yang Sedang Menderita, tetapi Hadirlah Membawa Kasih Allah >>> Ay. 1–2. Ketika melihat orang yang buta sejak lahir, para murid bertanya kepada Yesus tentang siapa yang berdosa sehingga orang itu mengalami keadaan demikian. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa para murid masih memiliki pemahaman bahwa penderitaan seseorang selalu berkaitan langsung dengan dosa atau kesalahan tertentu. Namun, Yesus tidak membenarkan cara berpikir tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menemukan sikap yang sama. Ketika seseorang mengalami kesulitan, kita mudah memberikan penilaian: orang itu miskin karena malas bekerja; keluarga itu mengalami masalah karena kurang beriman; orang itu sakit karena Tuhan sedang menghukumnya; orang yang gagal dianggap tidak mampu dan tidak memiliki masa depan. Tanpa disadari, perkataan dan penilaian seperti ini justru menambah beban orang yang sedang menderita.
Yesus mengajarkan kepada kita bahwa ketika berhadapan dengan penderitaan orang lain, yang terutama bukanlah mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana kita dapat menghadirkan kasih Allah. Gereja tidak boleh menjadi tempat yang menghakimi orang yang menderita. Gereja harus menjadi tempat di mana orang menemukan penghiburan, penerimaan, pertolongan, dan pengharapan. Oleh karena itu, jangan sibuk mencari kesalahan orang yang menderita, tetapi jadilah alat Tuhan untuk menolong dan menguatkan mereka.
2. Penderitaan Dapat Menjadi Kesempatan untuk Menyatakan Pekerjaan Allah >>> Ay. 3. Jawaban Yesus di ayat ini, mengubah arah pandangan para murid. Mereka melihat penderitaan sebagai persoalan tentang siapa yang bersalah, tetapi Yesus mengarahkan mereka untuk melihat bagaimana pekerjaan Allah dapat dinyatakan. Perlu dipahami bahwa Yesus tidak sedang mengatakan bahwa semua penderitaan sengaja diberikan Allah sebagai hukuman atau bahwa setiap penderitaan memiliki penyebab yang sama. Sebaliknya, Yesus menolak anggapan bahwa kebutaan orang tersebut merupakan akibat dosa pribadi atau dosa orang tuanya.
Yesus memperlihatkan bahwa keadaan yang sulit sekalipun tidak dapat menghalangi Allah untuk menyatakan pekerjaan-Nya. Orang yang buta sejak lahir itu mungkin dianggap tidak memiliki masa depan oleh masyarakat. Ia mungkin dipandang sebagai orang yang hanya dapat meminta belas kasihan orang lain. Tetapi di mata Yesus, kehidupannya tetap berharga dan menjadi tempat di mana pekerjaan Allah dinyatakan.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa penderitaan tidak pernah menghilangkan nilai kehidupan kita di hadapan Allah. Dalam keadaan apa pun, kita tetap dapat menjadi alat Tuhan. Lalu, bagaimana pekerjaan Allah dinyatakan di tengah penderitaan?
- Ketika orang yang menderita tetap memiliki iman dan pengharapan kepada Tuhan.
- Ketika seseorang yang pernah mengalami kesulitan menjadi sumber penguatan bagi orang lain.
- Ketika keluarga yang sedang menghadapi pergumulan tetap saling mengasihi dan menopang.
- Ketika gereja hadir membantu masyarakat yang mengalami kesulitan.
- Ketika orang percaya menunjukkan kesabaran, ketekunan, dan kasih di tengah keadaan yang tidak mudah.
Penderitaan tidak harus menjadi akhir dari kehidupan. Di dalam Tuhan, penderitaan dapat menjadi kesempatan untuk menyaksikan kasih dan pekerjaan-Nya. Oleh karena itu, jangan biarkan penderitaan mematikan iman dan pengharapan kita. Izinkan Tuhan memakai kehidupan kita untuk menyatakan pekerjaan-Nya.
3. Tetap Mengerjakan Pekerjaan Allah Selama Kesempatan Masih Ada >>> Ay. 4–7. Perkataan Yesus di ayat 4 menunjukkan pentingnya tanggung jawab dan kesempatan untuk melakukan pekerjaan Allah. Yesus tidak hanya berbicara tentang pekerjaan Allah, tetapi Ia juga melakukannya. Sementara itu, di ayat 6–7, Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tersebut. Kemudian Yesus menyuruhnya pergi membasuh diri di kolam Siloam. Orang itu melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Ia pergi membasuh dirinya dan ketika kembali, ia dapat melihat. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Yesus tidak hanya memberikan pengajaran tentang kasih Allah, tetapi juga bertindak nyata untuk menolong manusia. Ada tindakan, ada kepedulian, dan ada pemulihan.
Kita juga dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan Allah di tengah kehidupan yang penuh tantangan. Jangan menunggu sampai semua persoalan selesai baru kita mau melayani Tuhan. Jangan menunggu sampai kita kaya baru mau menolong orang miskin. Jangan menunggu sampai keadaan gereja sempurna baru kita mau mengambil bagian dalam pelayanan. Jangan menunggu sampai tidak ada penderitaan baru kita mau menunjukkan kasih.
Apa pekerjaan Allah yang harus kita kerjakan sekarang?
- Di dalam keluarga: membangun kasih, pengampunan, kesetiaan, dan kepedulian.
- Di dalam gereja: melayani dengan tulus, membangun persekutuan, dan memperhatikan mereka yang lemah.
- Di tengah masyarakat: menolong orang yang membutuhkan, memperjuangkan keadilan, dan menjaga persaudaraan.
- Di dunia pendidikan: mendukung anak-anak dan generasi muda agar memiliki masa depan yang lebih baik.
- Di tengah penderitaan: menjadi pembawa penghiburan, pengharapan, dan kekuatan bagi sesama.
Kita tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh persoalan dunia, tetapi kita dapat melakukan sesuatu melalui kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Oleh karena itu, selama Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, gunakanlah hidup itu untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.
APLIKASI
Dari firman Tuhan ini, kita belajar bahwa penderitaan bukanlah alasan untuk berhenti mengerjakan pekerjaan Allah. Justru di tengah penderitaan, kita dipanggil untuk menyatakan kasih, kuasa, dan kemuliaan Tuhan.
Yohanes 9:1–7 mengajak kita untuk melakukan perubahan dalam cara berpikir dan bertindak.
- Mengubah sikap dari menghakimi menjadi peduli.
Jangan memperbesar penderitaan orang lain melalui perkataan yang menyakitkan. Belajarlah menjadi pribadi yang membawa kasih.
- Mengubah keputusasaan menjadi pengharapan.
Jangan menyerah ketika menghadapi kesulitan. Percayalah bahwa Tuhan tetap bekerja dan menyertai kehidupan kita.
- Mengubah iman menjadi tindakan nyata.
Iman harus terlihat melalui kepedulian, pelayanan, pengorbanan, dan tindakan nyata untuk menolong sesama.
Gereja yang sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan Allah bukan hanya gereja yang rajin melaksanakan ibadah, tetapi juga gereja yang hadir di tengah penderitaan masyarakat. Keluarga Kristen bukan hanya keluarga yang berdoa bersama, tetapi juga keluarga yang saling menopang ketika menghadapi kesulitan. Orang percaya bukan hanya orang yang pandai berbicara tentang firman Tuhan, tetapi juga orang yang melakukan firman Tuhan dalam kehidupannya.
Kisah orang buta sejak lahir dalam Yohanes 9:1–7 memberikan pelajaran yang sangat mendalam bagi kehidupan kita. Kesatu, jangan menghakimi orang yang sedang menderita. Sebaliknya, hadirkanlah kasih Allah melalui kepedulian dan pertolongan. Kedua, jangan menganggap penderitaan sebagai akhir dari segalanya. Penderitaan tidak menghilangkan kesempatan bagi Allah untuk menyatakan pekerjaan-Nya dalam kehidupan manusia. Ketiga, jangan menunda untuk mengerjakan pekerjaan Allah. Selama masih ada kesempatan, mari kita melayani, menolong, mengasihi, dan menjadi berkat bagi sesama.
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami penderitaan. Ada yang sakit, ada yang menghadapi masalah keluarga, ada yang mengalami kesulitan ekonomi, ada yang sedang kehilangan orang yang dikasihi, dan ada pula yang sedang bergumul dengan masa depan.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak kehilangan pengharapan. Ingatlah, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Dan kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Jangan hanya bertanya, “Mengapa penderitaan ini terjadi?” Tetapi belajarlah juga bertanya: “Tuhan, apa yang dapat saya kerjakan melalui kehidupan saya untuk menyatakan kasih dan kemuliaan-Mu?”
Apa yang harus kita lakukan?
- Belajar melihat orang yang menderita dengan belas kasihan, bukan dengan penghakiman.
- Memberikan perhatian kepada mereka yang sakit, miskin, lemah, dan tersisih.
- Menjadi sahabat bagi mereka yang kehilangan harapan.
- Menguatkan orang yang sedang menghadapi pergumulan hidup.
Mari kita menjadi gereja yang peduli, keluarga yang saling menguatkan, dan orang percaya yang tetap setia melayani sekalipun berada di tengah penderitaan. Sebab pekerjaan Allah harus terus dinyatakan melalui kehidupan kita, bukan hanya ketika keadaan baik, tetapi juga ketika kita sedang menghadapi penderitaan. Amin.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 08 Nopember 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
