KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Bahan Bacaan : Yohanes 8:30-36

PENDAHULUAN :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebenaran berarti keadaan atau hal yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya, sesuatu yang sungguh-sungguh ada, atau kelurusan hati/kejujuran, dan dalam konteks klasik berarti izin atau persetujuan. Secara sederhana, kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan atau pengetahuan dengan fakta atau kenyataan yang ada.

Injil Yohanes ditulis untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang ilahi dan untuk memimpin mereka pada iman yang memberi hidup kekal. Selain itu, juga untuk memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa, sumber kehidupan kekal.

Tema khotbah hari ini adalah  : Kebenaran Yang Memerdekakan menolong kita untuk mendalami kebenaran dalam perpesktif Alkitab. Kalimat ini dikutip dari Yohanes 8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Dalam konteks Yohanes 8:30-36, memberi arah tentang kebenaran Alkitab yang memerdekakan, yang membebaskan. Kebenaran seperti apa yang memerdekakan, siapa yang dimerdekakan dan bagaimana kebenaran itu memerdekakan ?

PENJELASAN TEKS

Dalam Injil Yohanes pasal 8:30-36. kita menemukan Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. Ayat 30 mencatat, “Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang menjadi percaya kepada-Nya.” Ini adalah momen penting karena sebagian dari mereka yang mendengarkan perkataan-Nya mulai membuka hati mereka. Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah tantangan bagi iman mereka. Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan :

  • Ayat 32-33: “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kalimat ini muncul sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ayat 31. Pernyataan Yesus kepada orang-orang Yahudi : “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku”. Hal ini memberi catatan penting tentang status sebagai pengikut Kristus (baca: murid Kristus) yang harus diikuti dengan komitmen untuk taat kepada firman-Nya. Jika kondisi ini dipertahankan maka akan memperoleh kebenaran. Selanjutnya kebenaran itu akan memerdekakan. Kata Yunani untuk kebenaran adalah aletheia, yang berarti kejujuran atau substansi sejati, yaitu Yesus Kristus sendiri. Ayat ini berbicara tentang kebebasan yang datang dari mengetahui kebenaran. Dalam konteks ini, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentang Allah dan rencana-Nya untuk manusia. Ketika kita mengetahui kebenaran ini dan melakukan kebenaran itu maka kita akan dibebaskan dari dosa dan kesalahan serta kita akan memiliki hidup yang baru dan bermakna. Pernyataan Yesus tentang kebenaran yang dibawaNya, dibantah oleh orang Yahudi bahwa mereka Adalah keturunan Abraham dan tidak menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Ini sebuah kontra berpikir dan pemahaman. Sebagai keturunan Abraham yang hidup di bawah Hukum Musa (Taurat) mereka adalah anak yang sah, bukan budak. Lagi pula, yang mereka butuhkan adalah kemerdekaan secara politis bukan kemerdekaan secara rohani.
  • Ayat 34-35: Yesus menjelaskan bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah budak dosa. Yesus menggunakan istilah hamba dosa untuk menekankan bahwa orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa (Yoh 8:34) dan tidak memiliki kebebasan sejati. Mengapa demikian ? Karena setiap saat manusia berdosa, manusia adalah hamba dosa. Seorang budak yang diperbudakkan pada manusia, dapat melarikan diri, dan menjadi bebas, tetapi orang yang menjadi budak dosa tidak mungkin melarikan diri, karena dosa orang itu berada di dalam diri orang itu! Sementara, Anak Allah (Yesus sendiri) memiliki hubungan kekal dan kebebasan, dan mereka yang menjadi anak Allah melalui Dia akan benar-benar merdeka (Yoh 8:36). Karena itu, kemerdekaan dari dosa, adalah kemerdekaan yang jauh lebih penting. Dia tidak mau menjadi raja jasmani, sebelum masalah perbudakan dosa diurus. Budak tidak tinggal selamanya di rumah, tetapi Anak (Yesus) tinggal selamanya. Yesus membedakan antara “hamba dosa” yang terikat oleh dosa, dengan “anak Allah” yang memiliki kebebasan sejati dan hubungan kekal dengan Bapa di surga. Jika Anak memerdekakan mereka, mereka menjadi anak-anak Allah yang merdeka selamanya.
  • Ayat 36: “Jika Anak memerdekakan kamu, kamu benar-benar merdeka.” Ini menekankan bahwa kemerdekaan sejati berasal dari Yesus Kristus, membebaskan dari kuasa dosa. Yesus Kristus (Sang Anak) menawarkan kebebasan sejati dari perhambaan dosa, hukuman, dan kematian, sehingga orang percaya yang menerima-Nya akan benar-benar merdeka, bukan sekadar kebebasan duniawi, tetapi kebebasan spiritual untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi anak Allah, bukan lagi hamba dosa. Kemerdekaan ini meliputi pembebasan dari kuasa dosa, rasa malu, dan janji pembebasan dari kehadiran dosa di masa depan.

MEMAKNAI TEKS :

Apakah yang dapat kita lakukan agar kita beroleh kebenaran yang memerdekakan kita dari kekhawatiran dan ketakutan atas apa yang akan terjadi di tahun 2026?

  • Mengakui Perbudakan Dosa: belajar untuk menyadari bahwa kita semua pada dasarnya adalah budak dosa, tidak mampu membebaskan diri sendiri, dan tunduk pada kehendak dosa. Yesus menawarkan kebebasan melalui pengampunan dan kuasa-Nya untuk menjadi “budak kebenaran” (Ay. 34, 36; Roma 6:18). Ini sebuah proses yang dimulai dengan pengakuan tulus kepada Tuhan dan pertobatan untuk dosa-dosa yang mengikat kita. Sebagai catatan awal perjalanan di tahun baru, maka kesalahan (telah menjadi hamba dosa) di tahun yang telah berlalu, tidak boleh diulang lagi di tahun yang baru. Tahun yang baru mesti diisi dengan perubahan hidup. Hidup dalam kebenaran Allah yang memerdekakan.
  • Mencari Kebenaran dalam Firman Yesus: Yesus berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (ayat 32). Kebenaran ini adalah pribadi Yesus dan ajaran-Nya (logos/firman). Mengenal kebenaran itu dimulai dengan rajin membaca Alkitab dan menjadikan Firman-Nya sebagai pedoman hidup. Tetap tinggal dalam Persekutuan dengan Tuhan (setia berdoa >>> bangun relasi pribadi dengan Tuhan), juga bangun relasi dengan sesama (jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah – Ibr. 10:25).
  • Menjadi Murid yang Berbuah: Mereka yang tinggal dalam firman adalah murid sejati, bukan sekadar pendengar. Kehidupan mereka akan menunjukkan perbedaan dari yang lain. Menjadikan kasih, kejujuran, dan pengampunan sebagai pola hidup, bukan lagi didorong keegoisan atau ketakutan. Hidup yang terus bertumbuh dalam iman, terhubung erat dengan Tuhan (Pokok Anggur) agar menghasilkan dampak positif (buah) bagi sesama, mempermuliakan Bapa, dan membuktikan diri sebagai pengikut Kristus yang sejati, melalui ketaatan, pembersihan diri, dan pelayanan nyata, bukan sekadar tahu Firman tetapi menghidupinya. Buah ini adalah karakter Kristus (kasih, sukacita, damai sejahtera) yang terpancar dalam perbuatan baik dan menjadi berkat bagi orang lain.
  • Memilih Kemerdekaan Sejati: Kemerdekaan sejati adalah kebebasan untuk melakukan yang benar, bukan sekadar bebas melakukan apa pun yang kita mau. Kita bebas dari hukuman dosa dan kuasa dosa, kata. Gunakan kebebasan ini untuk melayani sesama, membangun komunitas yang adil, dan menyebarkan kebenaran, bukan untuk menyebar hoaks atau kebencian, seperti yang dicontohkan orang percaya sejati.
  • Menjadi Hamba Kebenaran, Bukan Tuan Kebiasaan Buruk: Kita hidup di dunia yang dikuasai oleh si jahat dan kuasa dosa begitu kuatnya menarik kita untuk berbuat dosa. Dosa membuat manusia terjerumus ke dalam perbudakan sehingga sulit untuk melakukan apa yang benar. Dalam zaman modern ini, kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang bersifat relatif tergantung siapa yang mengatakannya dan dari sisi mana kita melihatnya. Yesus datang untuk membebaskan kita dari pola dosa yang membelenggu (kecanduan, kepahitan, kebohongan). Hidup dalam Kristus memberikan keinginan, kemampuan, dan kesempatan untuk menyenangkan Dia dan melayani sesama dengan sukacita, bukan terpaksa. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk kembali kepada kebenaran sejati di dalam Kristus. Di dalam Kristus, kita mendapat kebenaran sejati dan kemerdekaan untuk melakukan kebenaran. Status kita berubah dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran yang akan membuat hidup kita senantiasa kudus dan berkenan kepada Allah.

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 04 Januari 2026

[2] Pelayan di Jemaat Imanuel Oesao – Klasis Kupang Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *