KUPANG-dmckoe.com, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, memimpin langsung Apel Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi Tingkat Provinsi NTT yang berlangsung di halaman Gedung Sasando – Kantor Gubernur NTT, pada Jumat, (21/11/2025) pagi.
Hadir pula Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, jajaran Forkopimda, serta unsur pemerintah daerah lainnya. Apel tersebut digelar untuk memastikan kesiapan seluruh instansi dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah NTT.
Apel diikuti oleh sekitar 100 peserta, yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, para Kepala Pelaksana BPBD se-NTT, para Kepala BMKG kabupaten/kota se-NTT, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT, Tagana, serta berbagai komunitas relawan penanggulangan bencana se-NTT. Selain itu, para Sekretaris Daerah se-NTT juga mengikuti apel secara daring.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa potensi ancaman hidrometeorologi di NTT merupakan kejadian berulang yang setiap tahun menghadirkan risiko bencana. Karena itu, kewaspadaan dan langkah antisipasi sejak dini menjadi sangat penting.
“Sebentar lagi kita akan masuk ke musim penghujan. Kita belum tahu situasinya nanti seperti apa, tetapi saya berharap kita bisa mengantisipasi lebih awal melalui edukasi, sosialisasi, dan kesiapsiagaan, baik pada kondisi darurat maupun sebelum terjadi bencana,” ujar Gubernur Melki.
Apel ini juga merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden RI serta arahan Menteri Dalam Negeri RI dalam rapat koordinasi bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota terkait antisipasi cuaca ekstrem.
“Sesuai pesan Presiden dan arahan yang telah disampaikan, menjadi kewajiban kita semua baik pemerintah, instansi vertikal, dan seluruh unsur pelaksana tugas di NTT untuk memastikan persiapan yang lebih baik. NTT adalah daerah dengan potensi bencana yang tinggi,” jelasnya.
Gubernur Melki menekankan pentingnya antisipasi awal, edukasi publik, protokol darurat, serta mobilisasi sumber daya untuk mengurangi risiko dan menjaga keselamatan masyarakat.
Usai apel, Gubernur Melki Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma melakukan pemeriksaan kelengkapan dan kesiapsiagaan personel, termasuk unit kendaraan darurat dan berbagai peralatan penanggulangan bencana seperti perahu karet, alat selam, gergaji mesin, peralatan SRT, rope access, mesin perahu, dan perlengkapan lainnya.
Melalui sambungan daring, Gubernur Melki dan Wagub Johni juga berdialog dengan para Sekretaris Daerah selaku Ex Officio Kepala BPBD di masing-masing wilayah. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur memberikan arahan agar setiap daerah segera melakukan rapat konsolidasi untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
“Minggu ini agar daerah-daerah segera melakukan konsolidasi internal, memastikan semua unsur siap,” tegas Gubernur Melki.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyoroti situasi cuaca dan iklim di sejumlah kabupaten yang perlu mendapat perhatian serius, terutama memasuki musim hujan. Ia secara khusus menanyakan kondisi Gunung Lewotobi kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur menjelaskan bahwa kondisi di kawasan Lewotobi saat ini relatif landai, namun pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir lahar dingin.
“Langkah antisipasi terus kami siapkan. Untuk gelar pasukan, saat ini sedang dalam tahap persiapan. Rapat koordinasi bersama seluruh pihak terkait akan kami laksanakan pada hari Senin,” ujar Sekda Flores Timur.
Diakhir kegiatan, Gubernur Melki, kembali menekankan bahwa semangat gotong royong harus menjadi spirit bersama dalam menghadapi potensi bencana di daerah. Ia mengaitkan hal ini dengan filosofi pembangunan daerah, “Ayo Bangun NTT”, yang tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi juga kesiapsiagaan masyarakat.
“Ayo siapkan diri menghadapi bencana. Kesiapsiagaan membuat kita waspada, dan kewaspadaan itulah yang dapat menyelamatkan banyak nyawa,” tegasnya.
Gubernur Melki menambahkan bahwa kolaborasi seluruh elemen pemerintah, TNI–Polri, relawan, dan masyarakat merupakan kunci dalam meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi di berbagai wilayah NTT.
(Sumber: SiPers Biro Adpim Setda. Prov. NTT#AyoBangunNTT; Agustin Luju, Nuel Here Wele, Ady Hau-Nurmala)
