
- Pengantar
Manusia selalu melakukan kesalahan dalam relasi dengan sesamanya, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja atau dengan sadar maupun tidak sadar. Ada kesalahan tidak menimbulkan akibat serius, tetapi ada pula kesalahan yang tidak hanya menyakitkan tetapi juga menimbulkan luka yang
dalam di hati. Luka itu terbawa bertahun-tahun dalam hidup orang yang tersakiti dan menjadi akar pahit dalam dirinya. Dalam kondisi yang demikian, pengampunan bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Sebab setiap manusia memiliki kekuatan dan kelemahannya dalam mengampuni, ada
orang mudah mengampuni tetapi tentu ada yang tidak mudah. Terutama bagi orang yang mengalami ketidakadilan relasi dan lainnya, dalam situasi seperti itu mengampuni bukanlah perkara yang mudah sebab luka yang dialami begitu dalam sehingga baginya tidak mudah untuk mengampuni orang yang melukainya. Pada pihak lain, rasa dendam yang ada padanya menimbulkan kebencian yang dalam terhadap seseorang. Situasinya akan lebih rumit, jika orang yang bersangkutan melakukan kesalahan berulang-ulang, kendati sudah diampuni, ia terus mengulangi kesalahan dan kejahatan yang sama. Sehingga ada pandangan umum mengatakan bahwa pengampunan itu ada batasnya, jika orang bersangkutan sudah melewati batas maka perlu dibalas dengan kejahatan agar dia insaf. Bapak ibu saudara sekalian, dalam konteks itulah pertanyaan berapa kali harus mengampuni muncul dan menjadi relevan. Jika memang kita harus mengampuni; berapa kali, atau sewajarnya berapa kalikah kita harus mengampuni seorang, apakah pengampunan itu ada batasnya, jika ada, di manakah batas maksimal pengampunan itu?
2. Pengampunan Allah membebaskan kita dari rasa dendam terhadap sesama.
Terhadap pertanyaan ini, Yesus menjawab bahwa pengampunan itu merupakan wujud spiritual dari setiap orang, sebagai penanda hidup dari setiap orang Kristen. sehingga pengampunan itu mesti dipraktekkan tanpa batas dengan kerelaan dan kemurnian hati. Yesus berkata setiap harus mengampuni bukan sekedar tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali; artinya pengampunan itu orang n tanpa batas, harus dipratekkan secara terus dpraktekkan rkbagai wujud kasih kepada sesama. Dalam tradisi Jahudi, angka 1 kali tujuh merupakan symbol yang tujuh puluh kali\ merujuk pada Pratik yang melampaui batas tertentu karena Pratik itu merupakan bagian dari kebiasaan hidup, gaya dan karakter hidup. Sehingga bukan soal kapan, bagaimana dan berapa kali, tetapi pengampunan merupakan sebuah wujud kita kepada sesama, sebuah balasan yang setimpal bagi orang kita. Pembalasan setimpal berdosa terhadap kita. menurut adalah mata ganti mata dan gigi Ganti t tradisi manusia gigi tetapi bagi setiap pengikut Kristus, kejahatan mesti ibalas dengan cinta kasih, yaitu pengampunan sehingga kasih Allah dapat dirasakan setiap orang dan mampu memulihkan hidup sesama kita, Yesus lalu memperjelas dengan perumpamaan, tentang seorang hamba yang diampuni karena hutangnya yang besar oleh rajanya, tetapi hamba itu tidak mampu mengampuni temannya yang memiliki hutang lebih kecil. Akibatnya, pengampunan itu hilang sehingga sang raja menghukum hamba yang jahat tersebut. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa bukan orang lain saja yang butuh pengampunan, tetapı pada hakekatnya setiap manusia butuh pengampunan. Sebab setiap manusia berbuat dosa, dan sering juga melakukan kesalahan. Dihadapan Tuhan kita pun merupakan orang DeTdosa yang hidup oleh anugerah Allah, dengan demikian Pengalaman kita dengan Allah mesti menjadi Pelajaran SeKaligus panggilan etis kita untuk mengampuni sesama. Jika diampuni Allah, pengampunan itu harus menjadi dasar menjadikan kita rendah hati sehingga kita pun tidak harus inggi hati hati untuk tidak mengampuni sesama, pengampunan Allah harus 1 memulihkan kita dari rasa bersalah dan berdosa, sekaligus bebaskan kita rasa rasa angkuh dan egois, sehingga menjadikan kita peka dan rendah hati terhadap menjadi lebih peka sCsama, Jika kita diberi kesempatan oleh Allah untuk berubah melalui pengampunan, maka mestinya kita pun memberi kesempatan kepada sesama yang telah berdosa kepada kita, kita pun melihat mereka dengan kaca mata Allah, bahwa mereka pun patut ditolong untuk mengalami pemulihan dari Allah.
- Pokok-Pokok Refleksi
Dari teks ini orang Kristen diingatkan bahwa Allah telah mengampuni kita tanpa batas. Oleh karena itu orang Kristen pun mesti mengampuni sesamanya tanpa batas. Pengampunan dimaksud bukan hanya tentang melupakan kesalahan, tetapi juga melepaskan diri dari rasa sakit dan kebencian. Sebab dengan demikian ada pembebasan dari akar pahit sehingga kedamaian sejati akan dimiliki. Jadi pengampunan mesti dengan segenap hati. Relasi yang rusak mesti dipulihkan sehingga hal tersebut dapat menjadi contoh bagi orang lain. Pada umumnya ketika mengalami ketidakadilan ataupun kejahatan, sering kali kita mau menggunakan kesempatan untuk berbalas dendam, atau pun jadikan kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita. Sehingga terkadang kita berkata pengampunan juga ada batasnya. Tetapi Firman Tuhan memanggil kita untuk menjadikan situasi sulit yang kita alami sebagai ruang kesaksian, kesaksian kasih Allah di Kayu Salib yang rela mati ganti kita, agar kita mengalami pengampunan oleh Allah. Mari kita jadi agen perdamaian, ketika ada kekerasan kita mempraktekkan pengampunan, dengan mengampuni kita menyatakan kasih Kristus bagi sesama, dengan mengampuni kita pun menunjukkan bahwa kita adalah orang berpenharapan. Marilah kita tidak membatasi kasih Tuhan dengan status sosial, ego dan kebencian; sebab kasih dan pengampunan Tuhan itu tidak terbatas; tanpa memandang siapa dan kapan.
- Penuntun Pokok-pokok Refleksi:
Pertama, di minggu-minggu sengsara ini, apakah kita telah mempraktekkan pengampunan? Kedua, sejauh mana pengampunan Allah telah berdampak dalam hidup beriman kita? Ketiga, apa sikap konkrit dari pengampunan yang sungguh dan otentik? (htl)
