MEMBONGKAR KEBOHONGAN DAN MANIPULASI Dalur Maksimus TENTANG KEHADIRAN PATUNG YESUS DI SEMAU SEBAGAI PROGANDA LICIKNYA UNTUK SERANG GMIT.

By. Jerison Djo Rake

DALUR MAKSIMUS, BERHENTILAH MEMANIPULASI TEOLOGI PROTESTAN DEMI MEMBELA PROYEK PATUNG KRISTUS DI SEMAU!

Tulisan Anda sengaja mencampuradukkan program pemerintah, pelayanan gereja, doktrin TULIP, dan persoalan penyembahan berhala seolah-olah semuanya satu paket.

1. PERTAMA, PEMBANGUNAN PATUNG KRISTUS DI SEMAU BUKAN OTOMATIS PROGRAM GMIT!
Jangan memelintir fakta seolah-olah GMIT adalah pihak yang membangun patung tersebut hanya karena Sekretaris Majelis Sinode GMIT hadir dalam acara peletakan batu pertama.
Kehadiran seorang pemimpin gereja dalam kegiatan pemerintah tidak otomatis mengubah program pemerintah menjadi program institusi gereja.
Kita harus membedakan dengan jelas: siapa penyelenggara proyek, siapa pemilik atau pengelolanya, dari mana sumber anggarannya, siapa yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya, dan untuk apa fasilitas tersebut dibangun.

Jika proyek itu merupakan program pemerintah untuk mengembangkan pariwisata dan meningkatkan pendapatan daerah, maka proyek tersebut harus dinilai berdasarkan tujuan, tata kelola, manfaat publik, dan pertanggungjawaban anggarannya. Jangan mencatut kehadiran seorang pendeta untuk mengklaim bahwa seluruh GMIT telah menyetujui setiap aspek teologis pembangunan patung tersebut!
Kehadiran dalam acara tidak sama dengan persetujuan terhadap seluruh implikasi doktrinalnya.
Dan dukungan terhadap pembangunan daerah tidak sama dengan penyerahan otoritas iman kepada pemerintah.

2. KEDUA, JANGAN MEMUTARBALIKKAN SIKAP PROTESTAN TERHADAP PATUNG!
Protestan tidak otomatis menolak setiap benda yang berbentuk patung. Yang menjadi persoalan teologis adalah fungsi, penggunaan, dan kedudukan benda tersebut dalam kehidupan keagamaan. Jika patung Kristus ditempatkan sebagai karya seni, monumen publik, atau daya tarik wisata untuk memperkenalkan suatu kawasan dan mendatangkan pendapatan bagi daerah, keberadaan patung itu tidak otomatis menjadikannya objek penyembahan.
Pemerintah dapat membangun monumen. Seniman dapat membuat patung. Masyarakat dapat mengagumi nilai artistiknya. Wisatawan dapat berkunjung dan berfoto.

Semua itu berbeda dari tindakan menjadikan patung sebagai objek ibadah. Karena itu, jangan membangun narasi seolah-olah setiap orang Protestan yang menerima keberadaan patung sebagai monumen otomatis telah meninggalkan imannya. PROTESTAN TIDAK MENILAI KEBENARAN SEBUAH BENDA BERDASARKAN TINGGI, BESAR, ATAU MAHALNYA, MELAINKAN BERDASARKAN FUNGSI DAN PENGGUNAANNYA DI HADAPAN ALLAH.
Namun, perlu ditegaskan pula: persoalan gambar dalam ibadah memiliki pembahasan tersendiri dalam tradisi Protestan-Reformed. Jadi, keberadaan patung sebagai monumen publik tidak boleh disamakan begitu saja dengan penggunaan patung dalam praktik ibadah.

3. KETIGA, KELUARAN 20:4–5 BUKAN AYAT YANG BOLEH ANDA EJEK DENGAN SLOGAN PARIWISATA!
Firman Tuhan berkata: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya…” — Keluaran 20:4–5.

Perhatikan baik-baik! Perintah ini tidak boleh dipersempit hanya menjadi larangan menyembah berhala buatan bangsa kafir, lalu dianggap tidak relevan ketika sebuah benda diberi nama Yesus atau Kristus. Dalam konteksnya, larangan tersebut berkaitan dengan pembuatan representasi ilahi dan larangan memberikan penghormatan penyembahan kepada objek yang dilarang oleh perintah Allah. Karena itu, pertanyaan teologisnya bukan sekadar, “Apakah ini patung Kristus?” Pertanyaan yang jauh lebih penting ialah, “Apakah patung ini hanya monumen, ataukah manusia mulai memperlakukannya sebagai objek penyembahan?”

Jika patung itu merupakan monumen wisata, kita membahasnya sebagai fasilitas publik. Namun, jika patung itu dijadikan objek penyembahan, tempat orang memberikan tindakan pemujaan yang bertentangan dengan perintah Allah, persoalannya berubah menjadi persoalan serius mengenai penyembahan berhala. NAMA KRISTUS YANG DITEMPELKAN PADA SEBUAH BENDA TIDAK OTOMATIS MEMBUAT SEMUA PRAKTIK TERHADAP BENDA ITU BERKENAN KEPADA ALLAH! Sebab Allah tidak pernah kehilangan hak untuk menentukan bagaimana Dia harus disembah hanya karena manusia merasa telah membuat simbol yang indah bagi-Nya.

4. KEEMPAT, JANGAN GUNAKAN TULIP SEBAGAI KARIKATUR UNTUK MENYERANG PROTESTAN!
Anda menulis bahwa TULIP membuat Semau tetap miskin karena mengajarkan manusia rusak total.
Ini kekeliruan mendasar! Total Depravity tidak mengajarkan bahwa manusia tidak boleh bekerja, tidak boleh membangun, tidak boleh mengembangkan ekonomi, atau harus membiarkan kemiskinan berlangsung selamanya.
Doktrin itu mengajarkan bahwa dosa telah merusak seluruh dimensi keberadaan manusia dan bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa melalui kekuatannya sendiri.

Baca Roma 3:10–12 dan Efesus 2:1–10. Efesus 2:8–9 menegaskan keselamatan oleh anugerah melalui iman, bukan karena hasil usaha manusia. Tetapi Efesus 2:10 menjelaskan bahwa orang percaya diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik. Jadi, apa hubungan doktrin keselamatan itu dengan larangan membangun dermaga, mengembangkan pariwisata, atau meningkatkan pendapatan masyarakat? Tidak ada hubungan logis yang membenarkan kesimpulan Anda!

Orang Kristen Reformed dapat mendukung pembangunan infrastruktur, membantu nelayan, memperjuangkan pendidikan, dan mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa harus membuang doktrin kerusakan total. TULIP BUKAN DOKTRIN KEMISKINAN. TULIP ADALAH KERANGKA TEOLOGI TENTANG KESELAMATAN, BUKAN PROGRAM PEMBANGUNAN EKONOMI. Jika Anda hendak mengkritik TULIP, bantahlah doktrin keselamatannya berdasarkan Alkitab. Jangan mengarang seolah-olah Calvinisme melarang masyarakat berkembang.

5. KELIMA, JANGAN MENYAMAKAN PATUNG WISATA DENGAN OBJEK PENYEMBAHAN!
Ini garis argumentasi yang harus dipahami dengan benar. Sebuah patung dapat memiliki fungsi artistik, simbolis, historis, atau pariwisata. Fungsi-fungsi tersebut tidak dengan sendirinya identik dengan penyembahan. Sebaliknya, benda yang awalnya dibuat sebagai simbol dapat disalahgunakan ketika manusia mulai menempatkannya dalam kedudukan yang bertentangan dengan firman Tuhan.

Karena itu, posisi Protestan harus jelas: Jika patung Kristus di Semau hanya menjadi monumen wisata, bukan objek ibadah dan dikelola untuk kepentingan publik, maka jangan memfitnah orang Protestan dengan mengatakan bahwa keberadaan patung itu otomatis membuat mereka menyembah berhala. Tetapi jika patung tersebut kemudian dijadikan objek penyembahan yang melanggar perintah Allah, umat Protestan memiliki dasar biblis untuk menolaknya. Bukan karena membenci umat Katolik. Bukan karena membenci pembangunan Semau. Bukan karena ingin mempertahankan kemiskinan masyarakat. Melainkan karena bagi iman Protestan, penyembahan kepada Allah tidak boleh ditundukkan kepada simbol buatan manusia. Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup. Dia bukan Allah yang baru menjadi mulia setelah manusia mendirikan patung setinggi 70 meter. Kemuliaan Kristus tidak bergantung pada beton, besi, lampu, atau ketinggian monumen.

6. KEENAM, JANGAN MENGUBAH PROYEK PEMERINTAH MENJADI SENJATA UNTUK MENGHAKIMI GEREJA PROTESTAN!
Anda menulis bahwa GMIT sudah move on, sedangkan gereja-gereja Protestan yang mengkritik patung masih terjebak dalam Keluaran 20:4. Pernyataan ini bermasalah. Apakah membaca dan menaati perintah Allah sekarang dianggap sebagai tanda keterbelakangan? Apakah gereja yang mempertanyakan suatu praktik keagamaan otomatis anti-pembangunan? Apakah orang yang mendukung pembangunan ekonomi harus menanggalkan haknya untuk menguji segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan? Justru di sinilah letak persoalannya.

Dalam Kisah Para Rasul 17:11, orang Berea dipuji karena menerima pemberitaan dengan penuh perhatian dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah pengajaran itu benar. Prinsipnya jelas: klaim keagamaan harus diuji, bukan diterima hanya karena disampaikan oleh tokoh yang dihormati. Karena itu, kehadiran pejabat gereja dalam acara peletakan batu pertama tidak menghapus hak umat untuk bertanya mengenai fungsi patung, praktik yang menyertainya, dan kesesuaiannya dengan ajaran Alkitab. GMIT tidak perlu diserang untuk mempertahankan prinsip Protestan. Pemerintah tidak perlu dimusuhi untuk menguji kebijakan.  Yang dibutuhkan adalah argumentasi yang jujur dan pembedaan yang benar.

7. KETUJUH, JIKA TUJUANNYA PENDAPATAN DAERAH, BUKTIKAN MANFAAT EKONOMINYA!
Anda menghubungkan pembangunan patung dengan dermaga, jalan, wisata, dan peningkatan PAD. Baik. Jika demikian, mari menilai proyek tersebut sebagai program pembangunan.  Berapa target pengunjung per tahun? Berapa proyeksi pendapatan bersih setelah biaya pemeliharaan? Bagaimana akses masyarakat lokal terhadap peluang usaha? Bagaimana dampaknya terhadap lingkungan? Bagaimana pengelolaan pendapatan dan pertanggungjawaban anggarannya? Itulah pertanyaan yang relevan.

Jika proyek itu benar-benar mendatangkan manfaat ekonomi, masyarakat patut memperoleh manfaat tersebut.
Namun, jangan menjadikan proyeksi pendapatan sebagai angka yang pasti sebelum didukung studi dan data yang dapat diperiksa. Dan yang terpenting, keberhasilan ekonomi tidak otomatis membuktikan kebenaran teologis, sebagaimana perbedaan teologis tidak otomatis membuktikan bahwa suatu proyek ekonomi tidak berguna.
Dua hal ini harus dinilai dengan ukuran yang tepat.

JANGAN MENJADIKAN PATUNG SEBAGAI ALAT UNTUK MENGHAKIMI IMAN ORANG LAIN!
Dalur Maksimus, Anda boleh mendukung patung Kristus di Semau. Anda boleh mendukung program pemerintah. Anda boleh berharap masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari pariwisata. Tetapi jangan memanipulasi TULIP seolah-olah doktrin itu mengajarkan kemiskinan. Jangan menganggap kehadiran Sekretaris Sinode GMIT sebagai bukti bahwa setiap keberatan teologis sudah gugur. Dan jangan mencampuradukkan monumen wisata dengan objek penyembahan. Jika patung itu hanya monumen wisata, nilailah sebagai monumen wisata. Jika ia menjadi objek penyembahan, nilailah praktik penyembahan itu berdasarkan firman Tuhan. Jangan mencampuradukkan keduanya demi memenangkan propaganda.

Keluaran 20:4–5 tetap firman Tuhan, sekalipun manusia membangun monumen setinggi 70 meter. Sebaliknya, keberadaan sebuah patung tidak otomatis membuktikan bahwa semua orang yang berada di sekitarnya sedang menyembah berhala. Itulah sebabnya orang Kristen harus berpikir jernih, membaca Alkitab dengan bertanggung jawab, dan tidak menuduh tanpa bukti. PATUNG BOLEH MENJADI IKON WISATA. PEMBANGUNAN BOLEH MENJADI SARANA KESEJAHTERAAN. TETAPI PENYEMBAHAN HANYA BOLEH DILAKUKAN MENURUT KEHENDAK ALLAH. Sebab pada akhirnya, yang menentukan benar atau salah bukan propaganda Dalur Maksimus, bukan tingginya patung, dan bukan besarnya proyek. Yang harus menjadi ukuran bagi iman Protestan adalah firman Allah.

Sola Scriptura. Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *