“Kasih Kristus sebagai Jalan Penyembuhan Relasi”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Kolose 3:18-25

PENGANTAR :

Salah satu kebutuhan terbesar manusia adalah memiliki relasi yang baik. Kita ingin hidup dalam keluarga yang penuh kasih, rumah tangga yang harmonis, hubungan orang tua dan anak yang saling memahami, serta hubungan yang baik dengan sesama.

Namun, kenyataan hidup tidak selalu seperti yang kita harapkan. Ada suami dan istri yang tinggal serumah, tetapi hatinya berjauhan. Ada orang tua dan anak yang tidak lagi terbuka satu sama lain. Ada saudara yang tidak saling menyapa karena persoalan warisan. Ada orang yang terluka karena perkataan kasar, pengkhianatan, ketidakadilan, atau sikap tidak menghargai.

Luka dalam relasi sering kali tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya sangat dalam. Seseorang mungkin tetap tersenyum, tetapi menyimpan kepahitan. Sebuah keluarga mungkin terlihat baik dari luar, tetapi di dalamnya terdapat konflik yang belum diselesaikan.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana relasi yang terluka dapat disembuhkan?

Penjelasan Teks:

Kolose 3:18–25 memberikan prinsip-prinsip penting tentang kehidupan dalam keluarga dan hubungan antara sesama. Rasul Paulus berbicara mengenai hubungan suami dan istri, orang tua dan anak, serta hamba dan tuan dalam konteks masyarakat pada zamannya. Melalui nas ini, kita belajar bahwa iman kepada Kristus harus nyata dalam cara kita memperlakukan orang lain. Kristus bukan hanya Tuhan yang kita sembah dalam ibadah. Kristus juga harus menjadi pusat perkataan, sikap, keputusan, dan tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Surat Kolose ditulis untuk meneguhkan jemaat agar hidup berakar di dalam Kristus dan tidak mudah disesatkan oleh ajaran yang menjauhkan mereka dari-Nya. Paulus menulis surat Kolose kepada keluarga-keluarga yang relasinya juga sedang sakit karena ada ajaran sesat, ada tekanan budaya, ada ego.

Di Kolose 3:5-11 Paulus bilang: Tanggalkan manusia lama – marah, geram, kejahatan, fitnah, dusta. Di Kolose 3:12-17 Paulus bilang: Kenakan manusia baru – belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran. Puncaknya di Ayat 14: Di Atas Semuanya Itu, Kenakanlah Kasih. Kasih Kristus itulah obatnya. Di Ayat 18-25, Paulus berikan resep praktis bagaimana kasih itu menyembuhkan relasi paling penting di rumah.

Pada zaman Paulus, hubungan keluarga sangat kaku dan keras: Suami bisa seenaknya terhadap istri – istri dianggap harta benda. Ayah bisa seenaknya terhadap anak – anak dianggap budak. Tuan bisa seenaknya terhadap budak. Paulus tidak langsung hancurkan struktur keluarga, tapi dia masukkan KASIH KRISTUS ke dalam struktur itu, sehingga struktur yang keras itu menjadi lembut dan sembuh. Hari ini juga sama. Struktur keluarga tetap ada: ada suami, istri, anak, orang tua. Tapi kalau tidak ada kasih Kristus, struktur itu jadi penjara. Kalau ada kasih Kristus, struktur itu jadi istana.

Dari keseluruhan nas ini, kita menemukan tiga kebenaran utama, yakni :

1. Relasi Suami Istri Disembuhkan oleh Kasih yang Tunduk dan Kasih yang Tidak Pahit – Ay 18-19

Ini ayat yang paling sering disalahpahami dan jadi sumber pertengkaran. Apa arti Tunduk? Apakah istri jadi budak? TIDAK. Kata “tunduk” – hupotasso – dalam bahasa Yunani bukan berarti tertindas, tapi “menempatkan diri di bawah misi yang sama”. Seperti tentara yang tunduk pada komandannya untuk memenangkan peperangan yang sama. Istri tunduk bukan karena suami lebih hebat, tapi karena “sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan”. Artinya, ketundukan itu adalah pelayanan kepada Tuhan, bukan kepada ego suami. Istri yang tunduk berkata: “Saya menghormati kepemimpinan suami saya karena saya menghormati Tuhan yang menetapkan keluarga.” Tapi ingat, ayat ini langsung diimbangi Ay 19 untuk suami! Suami: Kasihilah dan jangan berlaku kasar / pahit. Kata “kasihilah” di sini adalah agapao – kasih seperti Kristus mengasihi jemaat, kasih yang berkorban, bukan kasih yang menuntut. Juga ada tambahan: “Janganlah berlaku kasar / pahit” – me pikrainesthe. Artinya jangan jadi pahit, jangan simpan dendam, jangan kasar perkataan, jangan KDRT. Banyak suami di NTT merasa sudah jadi kepala keluarga, tapi kepemimpinannya pahit: kata-kata kasar, tangan kasar, suka simpan kesalahan istri. Bagaimana Kasih Kristus Menyembuhkan Relasi Suami Istri? Rumusnya: Istri tunduk dengan kasih, Suami mengasihi tanpa kepahitan. Jika hanya istri tunduk tapi suami kasar = istri tertindas, relasi sakit. Jika hanya suami mengasihi tapi istri tidak hormat = suami tidak dihargai, relasi sakit. Jika dua-dua mengenakan kasih Kristus = relasi sembuh. Praktik Penyembuhan: Untuk Istri: Hari ini, dari pada mengeluh tentang suami di belakang, coba doakan dia dan katakan “Pa, saya hormati keputusanmu, mari kita doakan bersama”. Ketundukanmu bukan kalah, tapi menang dengan kasih. Untuk Suami: Hari ini, dari pada kasar, coba tanya “Ma, apa yang membuat hatimu pahit? Maafkan saya kalau kata-kata saya kasar.” Kasihmu harus seperti Kristus yang cuci kaki murid, bukan seperti raja yang perintah.

2. Relasi Orang Tua dan Anak Disembuhkan oleh Kasih yang Taat dan Kasih yang Tidak Melukai – Ay 20-21

Untuk Anak: Taat dalam segala hal – Ay 20. Ini perintah untuk anak, termasuk anak remaja, anak muda. Taat bukan hanya kalau orang tua kasih uang, tapi dalam segala hal yang sesuai Firman. Ketaatan adalah obat penyembuh bagi orang tua yang sering menangis karena anak tidak dengar-dengaran. Tapi Paulus tahu, anak tidak akan bisa taat kalau ayah menyakiti hatinya. Maka ada ayat 21. Untuk Bapak: Jangan sakiti hati anakmu. Kata “sakiti hati” – erethizete – artinya jangan provokasi terus-menerus, jangan buat anak marah dengan tuntutan yang tidak adil, jangan banding-bandingkan, jangan merendahkan. Ayat ini ditujukan kepada bapak karena pada zaman itu bapak yang punya kuasa mutlak. Hari ini juga banyak luka anak berasal dari bapak: Bapak yang tidak pernah ada di rumah. Bapak yang hanya tahu marah dan pukul. Bapak yang berkata “Kamu bodoh, kamu tidak akan jadi apa-apa” – itu membuat tawar hati anak. Bapak yang pilih kasih. Kata “tawar hatinya” – athymosin – artinya patah semangat, kehilangan keberanian, depresi. Banyak anak muda tawar hati, tidak mau ke gereja, masuk narkoba, karena hati mereka sudah disakiti di rumah oleh ayahnya sendiri. Bagaimana Kasih Kristus Menyembuhkan Relasi Orang Tua Anak? Rumusnya: Anak belajar taat dengan kasih, Ayah belajar mendidik tanpa melukai. Orang tua, khususnya bapak, kalau mau anak taat, jangan hanya teriak “Taat!”. Tanya dulu: “Apakah kata-kataku selama ini membuat anakku tawar hati? Apakah aku sudah menjadi teladan ketaatan kepada Bapak di Sorga?” Anak, kalau mau ayah berubah, jangan lawan dengan pemberontakan. Lawan dengan ketaatan yang indah di dalam Tuhan. Ketaatanmu yang tulus akan melunakkan hati ayah. Praktik Penyembuhan: Bapak: Hari ini, panggil anakmu. Jangan ceramah. Peluk dia dan katakan: “Anak, maafkan Papa kalau selama ini kata-kata Papa menyakiti hatimu. Papa mau belajar seperti Bapak di Sorga yang penuh kasih.” Satu kalimat ini bisa menyembuhkan 10 tahun luka. Anak: Hari ini, walau orang tuamu tidak sempurna, taati mereka dalam hal kecil: cuci piring tanpa disuruh, pulang tepat waktu, jawab WA orang tua. Ketaatan kecil adalah kasih besar.

3. Relasi Pekerjaan dan Pelayanan Disembuhkan oleh Kasih yang Melayani Tuhan, Bukan Manusia – Ay 22-25

Di ay. 23 Paulus bicara tentang relasi hamba dan tuan. Hari ini itu tentang: karyawan dan bos, jemaat dan majelis, pelayan dan pendeta, pembantu dan majikan. Banyak relasi rusak di luar rumah – di kantor, di gereja – karena kita kerja untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Kalau kerja untuk manusia: kalau bos lihat, rajin. Bos tidak lihat, malas. Kalau dipuji, semangat. Tidak dipuji, ngambek. Akhirnya relasi rusak. Kalau kerja untuk Tuhan: mau dilihat atau tidak, tetap jujur. Mau dipuji atau tidak, tetap setia. Karena yang menilai adalah Tuhan. Di ay. 25 ada peringatan: Tuhan tidak pandang muka. Bos yang menindas karyawan akan ditagih Tuhan. Karyawan yang curang juga akan ditagih Tuhan. Bagaimana Kasih Kristus Menyembuhkan Relasi Pekerjaan / Pelayanan? Ketika kita bekerja “seperti untuk Tuhan”, kita tidak lagi pakai kacamata iri hati. Di gereja: Majelis tidak akan saling sikut kalau semua melayani untuk Tuhan, bukan untuk jabatan. Di rumah: menantu dan mertua tidak akan bertengkar soal siapa paling berjasa, kalau semua melayani keluarga seperti untuk Tuhan.

APLIKASI

Bagaimana Memulai Penyembuhan Relasi? Berdasarkan Kolose 3:18–25, ada empat langkah praktis yang dapat kita lakukan.

  1. Datanglah kepada Kristus dengan hati yang jujur.

Akuilah luka, kemarahan, kepahitan, dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah orang lain; mintalah Dia juga membentuk hati kita.

  1. Beranilah membangun komunikasi yang sehat.

Pilih waktu yang tepat untuk berbicara. Sampaikan perasaan tanpa menghina. Dengarkan tanpa terburu-buru membela diri. Berusahalah memahami persoalan dari sudut pandang orang lain.

  1. Beranilah mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab.

Kalimat sederhana seperti, “Saya salah. Saya telah melukai hatimu. Saya minta maaf, dan saya akan berusaha berubah,” dapat menjadi awal yang berarti. Namun, permintaan maaf harus disertai perubahan nyata.

 

 

  1. Bangun kembali kepercayaan melalui tindakan yang konsisten

Kepercayaan yang rusak tidak selalu pulih dalam satu hari. Jangan memaksakan orang lain untuk segera melupakan luka. Tunjukkan perubahan melalui kesetiaan, kejujuran, penghormatan, dan tanggung jawab dari waktu ke waktu.

Ingatlah bahwa kita dapat membuka pintu pemulihan melalui sikap kita, tetapi kita tidak dapat memaksa orang lain untuk langsung menerima atau memulihkan hubungan. Kita perlu bersabar, bijaksana, dan terus mencari pertolongan Tuhan.

Kolose 3:18–25 mengajarkan bahwa kehidupan baru di dalam Kristus harus terlihat dalam hubungan kita dengan orang lain. Kasih Kristus mengajarkan suami dan istri untuk saling menghormati. Kasih Kristus membimbing orang tua dan anak untuk menjalankan tanggung jawab dengan kasih dan pengertian. Kasih Kristus juga mendorong kita untuk bekerja dengan tulus, memperlakukan sesama secara adil, dan hidup dengan kesadaran bahwa segala sesuatu kita lakukan di hadapan Tuhan.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami relasi yang rusak. Ada suami atau istri yang menyimpan kekecewaan. Ada orang tua yang menyesali perkataannya kepada anak. Ada anak yang terluka oleh perlakuan orang tuanya. Ada saudara yang sudah bertahun-tahun tidak saling berbicara. Ada rekan pelayanan yang masih menyimpan kepahitan.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak menyerah pada keadaan tersebut. Bawalah luka itu kepada Kristus. Mintalah hikmat untuk mengambil langkah yang benar. Beranilah memulai percakapan, mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, dan membangun kembali kepercayaan.

Kita mungkin tidak mampu mengubah masa lalu, tetapi bersama Tuhan kita dapat belajar membangun masa depan yang berbeda. Jangan menunggu orang lain memulai kebaikan. Jika kita menyadari bahwa kita telah bersalah, mulailah dengan pertobatan. Jika kita memiliki kesempatan untuk mendengarkan, dengarkanlah. Jika kita dapat berbicara dengan lembut, jangan memilih kata-kata yang melukai. Jika relasi yang kita hadapi melibatkan kekerasan atau ancaman, jangan menghadapi semuanya sendirian. Carilah pertolongan yang aman dan tepat. Kasih Kristus tidak menghendaki seseorang terus hidup dalam penindasan.

Ingatlah: kasih Kristus bukan sekadar perasaan yang kita ucapkan, melainkan kuasa yang mengubah cara kita memperlakukan sesama. Kiranya keluarga kita menjadi tempat pemulihan, rumah tangga kita menjadi tempat bertumbuh dalam kasih, dan gereja kita menjadi persekutuan yang menghadirkan damai sejahtera Kristus. Amin.

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 11 Oktober 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *