
“Nasionalisme yang Berakar pada Iman”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Bahan Bacaan : Matius 22:15-22
PENGANTAR :
Matius 22:15-22 dilatarbelakangi oleh kondisi politik yang menghasilkan koalisi antara orang-orang Farisi dan pendukung Herodes untuk menjerat Yesus. Otoritas keagamaan Yahudi merasa terancam oleh pengajaran dan kepopuleran Yesus di Bait Allah selama minggu-minggu terakhir sebelum penyaliban-Nya. Orang-orang Farisi (yang sangat menentang penjajahan Romawi dan pajak) bersekongkol dengan orang-orang Herodian (pendukung raja boneka Herodes yang pro-Roma), yang biasanya saling bermusuhan.
Waktu itu Yesus dijebak melalui pertanyaan dilematis mengenai kewajiban membayar pajak kepada Kaisar Romawi. Kelompok Farisi dan Herodian datang dengan 1 pertanyaan berbahaya: “Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17) Ini pertanyaan jebakan maut: Kalau Yesus bilang “Boleh” → Rakyat Yahudi marah. “Kamu pro penjajah Romawi!” Kalau Yesus bilang “Tidak Boleh” → Pemerintah Romawi tangkap. “Kamu pemberontak!” Yesus tidak jatuh. Dia kasih jawaban yang sampai hari ini jadi dasar iman dan warga negara: “Berikan kepada Kaisar… dan kepada Allah…” Mat 22:21 Hari ini kita belajar: Bagaimana jadi warga negara yang baik, tanpa melupakan bahwa kita warga Kerajaan Allah.
Penjelasan Teks:
Orang-orang Farisi mencoba menjebak Yesus lewat pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Yesus meminta mata uang dinar, lalu memberikan jawaban bijaksana: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” Dari point utama teks ini, ada 3 prinsip nasionalisme yang berakar pada iman yang patut didalami dan maknai dalam kehidupan beriman dan berbangsa :
1. NASIONALISME YANG MENGAKUI OTORITAS PEMERINTAH – “Berikan kepada Kaisar…” (ay. 21) Yesus menyuruh pegang koin. Di koin ada gambar Kaisar. Kata Yesus berkata: “Kalau gambar Kaisar ada di koin, kembalikan kepada Kaisar”. Artinya:
- Taat Hukum & Aturan → Bayar pajak, tertib lalu lintas, hormati pemimpin Roma 13:1,7.
- Cinta Tanah Air Lewat Tanggung Jawab → Nasionalisme bukan hanya upacara. Tapi kerja jujur, tidak korupsi, jaga lingkungan, pilih pemimpin dengan bijak
- Mendoakan Bangsa → 1 Tim 2:1-2 “Naikkanlah permohonan… untuk raja-raja dan untuk semua pembesar”
Hal ini mengarahkan kita pada fondasi iman: Kita taat pemerintah karena “pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu” Roma 13:4. Kita bukan takut pemerintah. Kita takut Tuhan yang memerintah lewat pemerintah.
2. NASIONALISME YANG MENGAKUI OTORITAS ALLAH – “…dan kepada Allah…” (ay. 21). Yesus tidak berhenti di “Kaisar”. Dia lanjut: “dan kepada Allah” Artinya:
- Ada Batas Ketaatan → Kalau “Kaisar” suruh sembah berhala, tolak. Contoh: Sadrakh, Mesakh, Abednego (Daniel 3). “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis. 5:29)
- Identitas Utama Kita Bukan KTP → Kita WNI, tapi lebih dulu kita “Warga Kerajaan Sorga” Fil 3:20.
- Nilai Iman di Atas Segala-galanya → Kebenaran, Keadilan, Kasih, Kejujuran adalah nilai Kerajaan Allah yang harus kita bawa ke dalam bangsa
Hal ini mengarahkan kita pada fomdasi iman yang mesti dibangun yakni: Kita cinta Indonesia karena Indonesia adalah ladang yang Tuhan percayakan. Yer. 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”
3. NASIONALISME YANG TIDAK MEMECAHBELAH – “Mereka heran…” (ay. 22) “Mereka heran mendengar jawaban itu, lalu meninggalkan Dia” Yesus tidak pilih kubu: Pro-Romawi atau Pro-Pemberontak. Yesus menghadirkan sebuah prinsip yang lebih tinggi yakni integritas. Nasionalisme yang berakar pada iman itu berarti
- Tidak rasis dan tidak SARA → Gal 3:28 “Tidak ada Yahudi atau Yunani”. Di gereja ada suku Timor, Rote, Jawa, Flores. Tapi kita 1 tubuh Kristus.
- Menjadi Pembawa Damai → Mat 5:9. Tidak ikut hoax, tidak ikut adu domba di WA/IG
- Melayani Tanpa Pamrih → Seperti Yesus. Turun ke dapur umum, ke korban bencana, ke TPS jaga kejujuran.
Hal ini mengarahkan kita pada fondasi iman yang mesti dibangun yakni Kita mengasihi bangsa karena Allah lebih dulu mengasihi dunia (Yoh 3:16).
APLIKASI
Matius 22:15-22 memberikan gambaran akan keadilan, yaitu memberikan apa yang menjadi hak orang lain, termasuk Tuhan. Kalau keadilan dapat diterapkan, maka damai sejahtera akan muncul. “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.” (Mzm 85:11) Jadi, kalau kita mau menciptakan damai sejahtera, maka mulailah dengan bersikap adil. Dengan demikian, keadilan akan bertemu dengan damai sejahtera dalam satu kesatuan. Hal ini dapat diterapkan dengan sikap hidup jujur sebagai warga negara yang taat hukum, membayar kewajiban pajak dengan benar, serta tetap menyerahkan seluruh hati, kesetiaan, dan hidup sepenuhnya kepada Allah tanpa memisahkan urusan dunia dan iman.
Secara praktis dalam bidang kehidupan dapat diwujudkan sebagai berikut :
| Bidang | Wujud Kepada Kaisar | Wujud Kepada Allah |
| PENDIDIKAN | Sekolah rajin, berprestasi untuk bangsa | Belajar untuk memuliakan Tuhan Kol 3:232. |
| PEKERJAAN | Kerja jujur, tidak korupsi, bayar pajak | Bekerja sebagai ibadah. Jadi “terang & garam” di kantor |
| POLITIK | tidak Golput, Pilih dengan hati nurani | Pilih pemimpin yang takut Tuhan & punya integritas |
| SOSIAL MEDIA | Tidak menyebar hoax, ujaran kebencian | Share kebenaran, doa, pengharapan. Jadi berkat |
Ingatlah bahwa diri kita diciptakan segambar dengan Allah. Berikanlah hati, kesetiaan, dan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, bukan hanya menyisihkan sisa waktu atau tenaga.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 16 Agustus 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
