“Memulai Perubahan Besar dari Kepedulian Kecil pada Pendidikan”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Bahan Bacaan : Matius 13:31-35

PENGANTAR :

Pernah lihat biji sesawi ? Ia sangat kecil. Lebih kecil dari biji cabai. Tapi bisa jadi pohon setinggi 3 meter dan burung bisa bersarang. Pernah lihat ragi ? Kecil jumlahnya bahkan diukur dengan sejumput. Akan tetapi bisa mengembangkan 1 baskom adonan. Yesus memakai 2 gambaran itu untuk menjelaskan “Kerajaan Sorga”.  Waktu Yesus bicara hal ini, murid-murid lagi kecewa. 12 orang, tidak punya gedung, tidak punya uang, malah dikejar-kejar. Akan tetapi Yesus bilang: “Jangan lihat kecilnya sekarang. Lihat hasil akhirnya nanti.”

Dalam kaitan dengan tema khotbah, mesti dipahami bahwa negara besar dimulai dari ruang kelas. Gereja kuat dimulai dari sekolah minggu. Bangsa maju dimulai dari 1 anak yang bisa baca. Hari ini kita bicara pendidikan. Mungkin kita berpikir: “Saya bukan guru. Saya bukan pejabat. Apa yang bisa saya lakukan?” Yesus menjawab lewat 2 perumpamaan di Matius 13:31-35.  Dia tidak bicara tentang gedung besar. Dia bicara tentang biji sesawi dan ragi.  Artinya: Perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil.

Penjelasan Teks:

  • Ayat 31-32 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, …” 3 Kebenaran dari Biji Sesawi:
  1. Kerajaan Allah dimulai dari yang kecil & tidak dianggap “yang paling kecil dari segala jenis benih” Waktu Yesus datang, Dia cuma punya 12 murid. Salib kelihatan seperti kekalahan. Gereja mula-mula cuma 120 orang di loteng Kis 1:15. Aplikasi: Apa itu “biji sesawi” di bidang pendidikan? 1 jam mengajar anak baca di hari Minggu, 1 paket buku untuk 1 anak yang tidak mampu, 1 kata dorongan: “Kamu bisa nak” untuk anak yang mau putus sekolah, 1 beasiswa kecil dari uang persembahan kita. Di mata dunia itu kecil. Tapi di mata Tuhan itu benih Kerajaan. Contoh Alkitab: Daniel. Daniel 1:17 “kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan”.  Perubahan 1 bangsa dimulai dari 4 anak muda yang dididik dengan benar. Aplikasi: Jangan bilang “saya tidak bisa mengubah sistem pendidikan Indonesia”. Tapi bertanyalah: “Anak siapa yang bisa saya tolong minggu ini?” Karena Kerajaan Allah tidak pernah mulai dari istana. Selalu mulai dari ladang. Jangan remehkan pelayananmu yang “kecil”. Doa 5 menit. 1 jiwa yang kamu layani. Persembahan kecil. Ibadah rumah tangga. Di mata dunia kecil. Di mata Tuhan itu “biji yang sedang ditabur”. Zakharia 4:10 “Sebab siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil”
  2. Kerajaan Allah Punya Kuasa Tumbuh Dari Dalam. Biji tidak perlu dipaksa. Kasih tanah, air, matahari → dia tumbuh sendiri. Itu kerja Roh Kudus. Kita tugasnya “menabur dan menyiram”. Tuhan yang kasih pertumbuhan 1 Kor 3:6. Jadi jangan stress kalau hasilnya belum kelihatan. Yang penting setia.
  3. Kerajaan Allah jadi berkat bagi banyak orang “sehingga burung-burung di udara datang bersarang” Tujuan pohon besar bukan untuk sombong. Tapi untuk jadi tempat berteduh. Pohon sesawi besar bukan untuk gagah-gagahan. Tapi untuk jadi tempat berteduh. Pendidikan Kristen tujuannya bukan melahirkan anak pintar saja. Tujuannya: melahirkan anak yang takut Tuhan, punya karakter, dan jadi berkat. Kalau pendidikan hanya kejar nilai tapi tidak ada kasih, tidak ada integritas → itu pohon tanpa burung. Kosong. Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya” “Jalan yang patut” = Jalan Tuhan. Jadi pendidikan tanpa Tuhan hanya melahirkan orang pintar yang egois. Kerajaan Allah tumbuh supaya: orang putus asa dapat harapan, orang berdosa bertobat, orang luka dipulihkan.Pertanyaan: Hidupmu sudah jadi “pohon” yang bisa ditinggali orang belum? Atau masih sibuk untuk diri sendiri?
  • Ayat 33 >>> Perumpamaan tentang Ragi

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

3 Kebenaran dari Ragi:

  1. KERAJAAN ALLAH BEKERJA DARI DALAM Ragi tidak teriak-teriak. Dia diam di dalam adonan. Tapi pelan-pelan mengubah semuanya. Injil tidak merusak budaya dengan paksa. Injil masuk ke hati, keluarga, kantor → lalu mengubah dari dalam. Ragi tidak teriak. Ragi tidak demo. Ragi hanya ada di dalam dan bekerja diam-diam. “Ragi Pendidikan” itu seperti apa? Guru yang mengajar “seperti untuk Tuhan” Kol 3:23. Bukan asal-asalan. Orang tua yang peduli PR anak, bukan hanya kasih uang jajan. Gereja yang buka PAUD, TPA, Bimbel gratis untuk anak sekitar. Pemuda yang jadi mentor 1 jam seminggu untuk adik-adik. 1 guru yang berintegritas bisa mempengaruhi 30 murid. 30 murid itu pulang ke 30 keluarga. 30 keluarga itu mempengaruhi 1 kampung. Itu ragi. Sedikit, tapi mengkhamirkan seluruhnya. Pertanyaan: Di “adonan” mana Tuhan tempatkan kita hari ini? Di sekolah? Di rumah? Di komunitas? Jadilah ragi di sana.
  1. KERAJAAN ALLAH PUNYA PENGARUH YANG MELUAS “sampai khamir seluruhnya” Sedikit ragi untuk adonan banyak. 1 orang Kristen di kantor bisa mempengaruhi 1 divisi. 1 keluarga Kristen bisa jadi terang untuk 1 RT. Yesus mau kita tidak hanya “di dalam gereja”. Tapi “ragi di tengah dunia”.
  1. KERAJAAN ALLAH BUTUH WAKTU Ragi tidak langsung mengembang. Butuh proses. Begitu juga pertobatan, pemulihan, penuaian. Jangan buru-buru. Percaya proses Tuhan.
  • Ayat 34-35 >>> Mengapa Yesus Pakai Perumpamaan “Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan… supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi”. Yesus pakai cerita sederhana supaya:  Orang percaya mengerti → Ada pengharapan. Orang sombong tidak mengerti → Karena tidak mau rendah hati. Menggenapi nubuat → Bahwa Mesias akan mengajar dengan cara ini.

APLIKASI

  1. JANGAN HINA PERMULAAN YANG KECIL Pelayananmu kecil? Doamu singkat? Imanmu lemah? Tabur saja. Biji sesawi tidak minta jadi besar dalam 1 malam. Yang penting: ditabur di “ladang” yang benar → yaitu di dalam kehendak Tuhan.
  1. JADILAH “RAGI” DI LINGKUNGANMU Di kampus, di kantor, di WhatsApp grup keluarga. Bawa nilai Kerajaan: jujur, mengampuni, melayani, berharap. Tidak perlu debat. Cukup hidup yang berbeda. Lama-lama “adonan” sekitar kita akan berubah.
  1. PERCAYA PROSES TUHAN Banyak orang berhenti di tengah karena tidak sabar. Ingat: Dari biji ke pohon butuh waktu. Dari ragi ke roti butuh waktu. Dari kamu sekarang ke “rencana Tuhan” juga butuh waktu. Tetap setia.
  1. “MULAI DARI KEPEDULIAN KECIL”
  • Sebagai Orang Tua: jadilah guru pertama. Ul 6:6-7 “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu”. Meja makan = kelas pertama. Alkitab = buku pertama.
  • Sebagai Jemaat: adopsi 1 anak / 1 sekolah. Tidak harus bangun universitas. Mulai dari: Beasiswa 1 anak. Renovasi 1 perpustakaan. Buka les gratis 1x seminggu.
  • Sebagai Guru/Pelayan: ajar dengan hati. Ingat: Kamu bukan hanya transfer ilmu. Kamu sedang “menabur biji” untuk 20 tahun ke depan. Doakan muridmu. Itu pelayanan.
  • Sebagai Gereja: jadilah “RAGI” Buka diri untuk anak jalanan, anak disabilitas, anak dari keluarga broken. Karena Yesus bilang: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku” Mat 19:14

 Penutup:

Yesus tidak pernah memulai gerakan-Nya dengan 5000 orang. Dia mulai dengan 12 murid. Dia tidak bangun gedung. Dia menabur Firman. Matius 13:32 “apabila sudah tumbuh”. Kata kuncinya: “apabila”. Tumbuh atau tidak tergantung kita mau menabur atau tidak. Tantangan untuk kita hari ini:

Mungkin Tuhan tidak panggil kamu jadi Menteri Pendidikan. Tapi Tuhan pasti panggil kamu untuk peduli pada 1 anak. Karena perubahan besar bangsa ini tidak akan dimulai dari Jakarta. Perubahan besar dimulai dari ruang kelas kecil. Dari hati kecil yang peduli. Dari tangan kecil yang menabur.

 

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 26 Juli 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *