KUPANG-dmckoe.com, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma menghadiri kegiatan Peringatan Hari Autisme Sedunia yang diselenggarakan oleh Komunitas Autis NTT bertempat di UPTD Taman Budaya Gerson Poyk – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, pada Jumat (10/4/2026) sore.

Walaupun di tengah guyuran hujan cukup lebat, namun kedatangan Wakil Gubernur NTT disambut sangat antusias khususnya oleh para anak-anak penyandang spektrum autisme.

Peringatan hari Autisme sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 April ini juga menampilkan berbagai pertunjukkan seni sebagai wadah ekspresi dan apresiasi bakat luar biasa anak-anak penyandang spekturm autisme agar lebih percaya diri dalam melihat dunia. Berbagai pertunjukkan seni yang ditampilkan meliputi menyanyi, bermain musik, drama, membaca puisi, menari serta karya kreatif lainnya.

Dalam arahannya, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan peringatan hari Autisme sedunia ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk mendorong penyandang autisme mengasah bakat, menemukan minat, dan melahirkan karya hebat.

“Peringatan hari Autisme ini merupakan momentum penting untuk meningkatkan kesadaran, pemahaman, serta penerimaan kita semua terhadap individu dengan spektrum autisme. Anak-anak autis adalah anak-anak yang istimewa. Karena punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ini adalah berkat yang Tuhan berikan,” ucap Wakil Gubernur Johni Asadoma.

Menurut Johni Asadoma, semua anak dilahirkan ke dunia dengan talenta yang berbeda-beda, termasuk anak penyandang autisme yang memiliki caranya sendiri untuk berekspresi dan berprestasi. Ia mendorong agar setiap orang tua yang memiliki anak penyandang autisme untuk peka terhadap potensi dan bakat anak-anak mereka sehingga bisa dikembangkan dan terus didukung.

“Talenta anak-anak kita ini harus terus diasah. Setiap orang tua yang memiliki anak-anak istimewa ini harus mengetahui dan memahami apa yang menjadi potensi dari anak-anak kita ini. Sehingga potensi tersebut bisa terus dibina, dilatih, diarahkan, dituntun, sehingga anak-anak bisa berkembang bakatnya,” jelas Johni Asadoma.

Dihadapan para orang tua, guru, komunitas autis, dokter, dan terapis serta anak-anak penyandang autisme yang hadir, Wagub Johni juga berbagi kisah inspiratif dari salah satu atlet renang legendaris yang punya nama besar yakni Michael Phelps. Atlet tersebut diceritakan Wagub Johni merupakan atlet berprestasi di level dunia dengan segudang gelar walaupun sewaktu kecilnya sempat mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan bahkan diperparah dengan situasi kedua orang tuanya yang broken home.

“Ada salah satu kisah inspiratif dari dunia olahraga. Kalian tahu, ada atlet renang dunia bernama Michael Phelps. Dia kini merupakan legenda renang di dunia olahraga renang. Dia juara dunia dan juara olimpiade. Semasa kecilnya, ia juga istimewa seperti kalian. Tapi semasa kecil, ia juga mengalami situasi yang tidak bagus, karena kedua orang tuanya bercerai waktu dia kecil. Namun dengan kondisi tersebut, ia tidak patah semangat. Ia justru menjadikan kekurangan dan kelemahan yang ia miliki sebagai kekuatan dan potensi untuk terus ia latih hingga ia menjadi orang paling hebat dalam kejuaraan renang dunia,” ungkap Johni.

“Oleh karena itu, talenta dan bakat yang kalian miliki harus terus diasah, dilatih dan dikembangkan, agar kalian juga bisa menjadi orang hebat seperti Michael Phelps. Karena tidak ada yang mustahil. Semua bisa kita kerjakan dan kita raih, asalkan kita rajin, disiplin dan tidak malas, itu kunci keberhasilan dan sukses untuk anak-anak sekalian,” tambah Wagub Johni.

Lebih lanjut, Wagub Johni juga berbangga karena anak-anak dengan spektrum autisme di NTT telah menunjukkan berbagai prestasi dan kreativitas yang membanggakan, baik di bidang seni, keterampilan, maupun akademik. Hal ini menurut Johni menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, mereka mampu berkembang, mandiri, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, maupun masyarakat luas, untuk terus memperkuat komitmen dalam menyediakan akses pendidikan yang inklusif, layanan kesehatan yang memadai, serta kesempatan yang setara bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Pemprov NTT juga berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan yang inklusif, memperluas akses pendidikan, meningkatkan layanan kesehatan, serta membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak-anak kita yang istimewa ini. Tentu gerakan kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan melalui berbagai langkah konkret adalah dukungan bagi anak-anak kita ini,” jelasnya.

Menutup arahannya, Wagub Johni Asadoma kembali mengingatkan bahwa membangun masyarakat inklusif bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Hal tersebut tentu dimulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial, agar tercipta ruang yang aman, ramah, dan penuh kasih bagi setiap anak.

“Terakhir, saya kembali ingatkan bahwa anak-anak ini adalah titipan Tuhan. Terus beri ruang untuk mereka berekspresi, beri motivasi untuk mereka, tuntun dan jaga mereka dengan baik. Dengan begitu, anak-anak istimewa ini akan bertumbuh jadi anak yang kuat mental, beriman dan tentu juga sehat secara fisik,” jelas Johni.

Sementara itu, Ketua Komunitas Autis NTT, Adriana Bunakala dalam kesempatan tersebut mengatakan anak dengan autisme harus terus didukung karena mereka memiliki potensi besar untuk berkembang, mandiri, dan hidup bahagia jika mendapatkan penerimaan serta stimulasi yang tepat. Autisme menurutnya bukanlah suatu penyakit yang harus disembuhkan, melainkan perbedaan dalam cara otak bekerja yang membuat mereka berinteraksi dan mempersepsikan dunia dengan cara yang berbeda.

“Saya kira kita semua di sini paham anak-anak kita ini hanya butuh terus didukung, kasih sayang dan ruang. Dan berkat kerja keras berbagai pihak yang terlibat, kini sudah banyak orang tua yang bisa menerima dan paham dengan kondisi anaknya yang autis,” ucap Adriana.

Ia juga mengapresiasi kinerja pemerintah dan pihak terkait dalam menangani anak-anak dengan kondisi autis di NTT yang menunjukkan kemajuan yang positif, namun masih menghadapi berbagai tantangan besar di lapangan.

“Atas nama komunitas autis NTT, saya mengucapkan terima kasih juga kepada Pemprov NTT, para donatur, tenaga medis, tenaga pendidik, kampus UPG, para guru dan semua pihak yang sudah berkontribusi mengurus anak-anak kita ini dengan berbagai fasilitas dan cara masing-masing. Walaupun masih banyak PR, namun kami optimis komunitas ini akan terus bergerak ke seluruh NTT untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak-anak yang kita sayangi ini.” Jelas Adriana.

(Sumber: SiPers Biro AdPim Setda Prov. NTT#AyoBangunNTT# Alexander L. Raditia, Nuel Here Wele, Adrianus Hau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *