Bahan Khotbah Minggu 17 Mei 2026
“PERSEKUTUAN YANG MEMULIHKAN: MENANTI DENGAN SETIA”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Bahan Bacaan : Kisah Para Rasul 1:12-14
PENGANTAR :
Menunggu adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah untuk dijalani. Oleh karena itu, banyak orang tidak suka menunggu bahkan ada yang membencinya. Contoh pekerjaan menunggu antara lain : menunggu gajian, menunggu hasil lab, menunggu jodoh, menunggu Tuhan menjawab doa. Murid-murid lagi di fase ” menunggu “. Yesus baru naik ke surga (Kis 1:9). Dia berjanji “kamu akan menerima kuasa” (ayat 8), tapi disuruh “jangan tinggalkan Yerusalem, tunggu” (ayat 4). Pertanyaan besar: Bagaimana caranya menanti/menunggu tanpa jadi pahit, sinis, atau menyerah? Jawaban Kis 1:12-14: Mereka menanti dengan setia di dalam persekutuan. Selanjutnya di persekutuan itu, Tuhan memulihkan. Penantian tidak harus menghancurkanmu. Kalau dijalani dalam persekutuan yang benar, penantian justru memulihkanmu.
PENJELASAN TEKS
- Dari Bukit ke Ruang Atas : Ayat 12: “kembalilah… dari Bukit Zaitun”
Ini lanjutan ayat 9-11. Yesus baru naik ke surga dari Bukit Zaitun. Malaikat bilang: “Yesus ini, yang terangkat ke sorga… akan datang kembali.” Tapi sebelum Dia balik, murid disuruh: “Jangan meninggalkan Yerusalem, tetapi nantikanlah janji Bapa” (ayat 4). “seperjalanan Sabat” = sekitar 1 km. Dekat. Aturan Yahudi melarang jalan jauh di hari Sabat. Lukas menulis hal ini untuk bilang: mereka taat. Ini adalah tindakan ketaatan langsung atas perintah Yesus untuk menunggu di Yerusalem sampai janji Roh Kudus tercurah. Bahkan soal jarak, mereka ikut aturan. Taat kecil itu latihan buat taat besar: menanti janji Tuhan. Poin: Penantian dimulai dengan ketaatan sederhana. Tidak usah menunggu visi besar. Mulai dengan “kembali ke Yerusalem” yang Tuhan suruh hari ini.
- Siapa yang Ada di Ruang Atas: Ay. 13″naiklah mereka ke ruang atas”. Ini menjadi tempat persekutuan, tempat mereka merasa aman dan menemukan kekuatan dalam komunitas saat menanti janji Tuhan.
Ruang atas = hyperōon. Biasanya lantai 2 rumah besar di Yerusalem. Tempat jamuan Paskah (Luk 22:12). Tempat Yesus menampakkan diri (Yoh 20:19). Sekarang menjadi “markas” gereja pertama. Daftar nama: 11 Rasul disebut satu-satu. Lukas menyebut nama para murid untuk menyatakan bahwa tiap orang penting. Petrus yang menyangkal, Tomas yang ragu, Matius si pemungut cukai, Simon si Zelot yang benci Romawi. Mereka pernah berantem siapa terbesar (Luk. 22:24). Mereka yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda, sekarang se-rumah dan disuruh untuk menunggu. Selain itu, “beberapa perempuan” (Luk. 8:2-3). Maria Magdalena, Yohana, Susana. Mereka yang setia di salib & kubur. Di budaya Yahudi, kesaksian perempuan tidak dihitung. Tapi di Kerajaan Allah, mereka dihitung pertama. “Maria, ibu Yesus”. Terakhir disebut di Yoh 19:25 di kaki salib. Sekarang dia di tengah komunitas. Dari “ibu yang hatinya ditembus pedang” (Luk 2:35), jadi ibu rohani gereja. “saudara-saudara Yesus”. Yoh 7:5 bilang mereka tidak percaya. 1 Kor 15:7 bilang Yesus menampakkan diri ke Yakobus. Sekarang mereka percaya. Ini bukti kebangkitan: mengubah keluarga Yesus yang skeptis jadi penyembah. Poin Tafsir: Ruang atas itu tempat rekonsiliasi. Musuh jadi saudara. Skeptis jadi percaya. Pengkhianat dipulihkan. Persekutuan yang memulihkan itu isinya orang rusak yang lagi dipulihkan Tuhan.
- Apa yang Mereka Lakukan – Mereka tidak berdiam diri, melainkan “bertekun dengan sehati dalam doa bersama”. Ini menunjukkan kesehatian (kesatuan hati) dalam doa, yang menjadi tanda kedewasaan rohani dan persiapan diri untuk pelayanan. Ayat 14″bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”. Ini kalimat kunci. 3 kata penting: “Bertekun” = _proskartereō_ Artinya: setia terus-menerus, melekat, tidak lepas. Kata ini dipakai untuk jemaat mula-mula dalam Kis. 2:42, “bertekun dalam pengajaran rasul”. Juga dipakai untuk istri yang “setia” pada suami. Aplikasi: Doa mereka bukan “doa buka puasa” tapi gaya hidup. 10 hari dari Kenaikan ke Pentakosta. Mereka tidak tahu kapan Roh Kudus turun. Tapi tiap hari mereka memilih datang ke ruang atas. Menanti dengan setia = datang lagi besok, walau belum ada jawaban. Doa: Gereja pecah karena kita sehati di hal yang salah: politik, bola, gosip. Gereja kuat kalau sehati di doa & misi. “Dalam doa bersama-sama”. Doa di sini jamak. Bukan doa pribadi sendirian di kamar. Tapi doa korporat. Orang Yahudi biasa doa 3x sehari jam 9, 12, 3. Mereka pakai ritme itu, untuk ada dalam masa penantian. Doa adalah cara mereka tetap terhubung dengan Tuhan dan mempersiapkan diri menerima apa yang Ia janjikan.
MEMAKNAI TEKS :
Kisah Para Rasul 1:12-14 mengajarkan bahwa menanti janji Tuhan bukanlah waktu untuk pasif, melainkan waktu untuk aktif berdoa bersama dalam kesehatian. Ini adalah teladan penting tentang pentingnya komunitas dan doa dalam menghadapi masa penantian yang penuh ketidakpastian. Beberapa poin penting yang menjadi implikasi praktis:
- Kesehatian dalam Komunitas (Unity): Para murid, perempuan, dan keluarga Yesus berkumpul dengan satu hati. Ini menegaskan bahwa gereja/orang percaya harus menjaga kesatuan, mengesampingkan perbedaan, dan bersatu dalam pelayanan itu juga bukan untuk menguasai. Mereka yang tinggal dalam persekutuan dengan firman adalah murid sejati, bukan sekadar pendengar tetapi aktif bersaksi di dalam komunitas dan di luar komunitas. Dalam kesatuan hidup komunitas, setiap anggota harus menampakkan pertumbuhan iman, terhubung erat dengan Tuhan (Pokok Anggur) agar menghasilkan dampak positif (buah) bagi sesama, mempermuliakan Bapa, dan membuktikan diri sebagai pengikut Kristus yang sejati, melalui ketaatan, pembersihan diri, dan pelayanan nyata. Ini adalah karakter Kristus (kasih, sukacita, damai sejahtera) yang terpancar dalam perbuatan baik dan menjadi berkat bagi orang lain.
- Bertekun dalam Doa (Persistence): Penantian mereka bukan pasif, melainkan aktif melalui doa. Ini mengimplikasikan bahwa dalam menghadapi masa penantian atau kesulitan, orang percaya dipanggil untuk terus berdoa dan mencari Tuhan. Tetap tinggal dalam Persekutuan dengan Tuhan (setia berdoa >>> bangun relasi pribadi dengan Tuhan), juga bangun relasi dengan sesama (jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah – Ibr. 10:25).
- Ketaatan pada Firman (Obedience): Ketaatan pada firman adalah wujud nyata kasih dan hormat kepada Tuhan melalui tindakan sadar untuk mendengar, menuruti perintah, dan menjauhi larangan-Nya dengan hati yang tulus. Ini mencakup penyerahan diri sepenuhnya (ketaatan mutlak), bukan setengah hati, serta kesetiaan untuk melakukan kehendak Tuhan di atas keinginan pribadi. Hal ini tergambar dalam tindakan para murid kembali ke Yerusalem. Mereka menaati perintah Yesus untuk menunggu janji Roh Kudus. Hal ini menunjukkan pentingnya ketaatan mutlak pada petunjuk Tuhan, bahkan sebelum melihat hasil atau janji itu digenapi.
- Solidaritas dalam Iman: Mereka berdoa bersama-sama, menciptakan suasana saling menguatkan, bukan berjuang sendirian. Lebih luas lagi solidaritas dalam iman adalah perwujudan kasih nyata yang didasarkan pada hubungan dengan Tuhan, mencakup kesetiakawanan, rasa percaya, dan tanggung jawab bersama untuk saling mendukung, terutama kepada yang lemah. Ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan komitmen hidup untuk berbagi kesejahteraan dan keadilan tanpa memandang perbedaan.
- Solidaritas dalam persekutuan >>> dalam budaya Sabu: Solidaritas dan persekutuan merupakan inti dari kehidupan sosial budaya masyarakat Sabu (Raijua) di Nusa Tenggara Timur. Nilai-nilai ini berakar kuat pada adat istiadat, ritual keagamaan, dan kehidupan sehari-hari yang menekankan kebersamaan dan persaudaraan. Kebersamaan dalam Nilai Kasih (Reba/Persekutuan): Ajaran tentang kasih, persaudaraan, dan hidup dalam persekutuan tercermin nyata, bahkan ketika berakulturasi dengan agama lain, nilai-nilai persaudaraan ini tetap dipertahankan. Gotong Royong (Hange’du Hewangnga): Tindakan simbolik cium hidung (Hange’du Hewangnga) merupakan simbol persaudaraan yang erat dan solidaritas dalam masyarakat Sabu-Raijua.
Persekutuan yang memulihkan adalah sebuah proses yang menuntut kesetiaan. Dengan setia menanti Tuhan, kita memberi ruang bagi-Nya untuk memperbaiki apa yang rusak dan memperkuat hubungan kita untuk masa depan yang lebih baik.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Pertukaran Pelayan se-Teritori 2 Klasis Kupang Tengah
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
