“Firman Tuhan Menerangi Jalan Hidup”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Mazmur 119:105–128

PENGANTAR :

Pernahkah kita berjalan di tempat yang gelap tanpa membawa penerangan? Kita mungkin tahu bahwa ada jalan di depan kita, tetapi kita tidak dapat melihat dengan jelas. Kita bisa tersandung, salah arah, bahkan tersesat. Demikian juga dengan kehidupan. Tidak semua perjalanan hidup berlangsung dalam keadaan terang. Ada saat kita menghadapi masalah keluarga, pergumulan ekonomi, penyakit, kekecewaan, kehilangan, ketidakpastian masa depan, atau harus mengambil keputusan yang sulit.

Dalam keadaan seperti itu, kita membutuhkan terang. Pemazmur berkata dalam Mazmur 119:105: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Firman Tuhan bukan sekadar bacaan untuk didengar pada hari Minggu. Firman Tuhan adalah pelita yang menuntun langkah kita dan terang yang menunjukkan arah hidup kita.

Penjelasan Teks:

Mazmur 119 memiliki hanya satu tema, yaitu hukum/ajaran dari Tuhan. Inti isi Mazmur 119 adalah kecintaan yang mendalam pada hukum/ajaran Tuhan. Kecintaan ini berangkat dari pengakuan betapa agungnya hukum Tuhan. Melalui Mazmur 119:105–128, kita menemukan beberapa kebenaran penting yakni :

  • FIRMAN TUHAN MEMBERI ARAH KETIKA JALAN HIDUP GELAP

Pemazmur berkata: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Ada dua kata: pelita dan terang. Pelita memberi gambaran tentang adanya cahaya bagi langkah yang sedang kita jalani. Terang membuat kita dapat melihat arah yang ada di depan. Artinya, Firman Tuhan tidak selalu menunjukkan seluruh perjalanan hidup kita sekaligus. Kadang Tuhan hanya memberikan terang untuk satu langkah berikutnya.

Kita sering ingin mengetahui seluruh masa depan: Apa yang akan terjadi tahun depan? Bagaimana keadaan keluarga saya? Bagaimana pekerjaan saya? Apakah masalah ini akan selesai? Ke mana Tuhan membawa hidup saya? Tetapi Tuhan sering tidak memberikan seluruh jawabannya sekaligus.

Tuhan berkata melalui firman-Nya: “Percayalah kepada-Ku dan berjalanlah bersama-Ku.” Seperti seseorang yang berjalan malam hari dengan membawa lampu, ia tidak perlu melihat seluruh jalan sampai tujuan. Ia hanya perlu melihat langkah berikutnya.

Ketika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, jangan hanya mengikuti perasaan. Jangan hanya mengikuti pendapat manusia. Jangan mengambil keputusan hanya karena emosi. Bukalah Firman Tuhan. Sebab ketika jalan hidup kita gelap, Firman Tuhan memberikan arah.

  • FIRMAN TUHAN MENJAGA KITA AGAR TIDAK TERSESAT

Dalam ayat-ayat berikutnya, pemazmur menunjukkan bahwa hidupnya tidak mudah. Ia berkata dalam ayat 107: “Aku sangat tertindas, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.” Pemazmur mengalami tekanan. Namun dalam tekanan itu, ia tidak meninggalkan Firman Tuhan. Ini penting bagi kita. Sering kali ketika masalah datang, kita justru menjauh dari Tuhan. Ketika kecewa, kita berhenti berdoa.
Ketika mengalami masalah, kita mulai menyalahkan Tuhan.
Ketika hidup sulit, kita mencari jalan sendiri. Padahal justru ketika hidup sedang sulit, kita semakin membutuhkan Firman Tuhan.

Firman Tuhan mengingatkan kita tentang siapa diri kita dan siapa Tuhan. Dunia dapat berkata: “Balaslah orang yang menyakitimu.” Tetapi Firman Tuhan berkata: “Ampunilah.” Dunia berkata: “Ambillah kesempatan itu walaupun salah.” Tetapi Firman Tuhan berkata: “Hiduplah dalam kebenaran.” Dunia berkata: “Ikutilah apa yang membuatmu senang.” Tetapi Firman Tuhan berkata: “Hiduplah sesuai kehendak Allah.” Karena itu, Firman Tuhan bukan hanya memberi arah, tetapi juga menjaga kaki kita supaya tidak keluar dari jalan yang benar.

  • FIRMAN TUHAN MEMBERIKAN KEKUATAN DI TENGAH PERGUMULAN

Mazmur 119:109 berkata: “Nyawaku selalu ada dalam bahaya, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.” Ini adalah pengakuan iman yang luar biasa. Pemazmur tidak mengatakan bahwa hidupnya bebas dari bahaya. Justru ia mengakui bahwa hidupnya berada dalam bahaya. Tetapi ada satu hal yang tidak ia lupakan: Firman Tuhan. Ini mengajarkan bahwa kekuatan orang percaya bukan berarti tidak pernah mengalami masalah.

Kekuatan orang percaya adalah tetap berpegang kepada Tuhan ketika masalah datang. Ada orang yang ketika hidupnya baik, rajin beribadah. Tetapi ketika masalah datang, imannya menjadi lemah. Pemazmur menunjukkan sesuatu yang berbeda: “Sekalipun hidupku terancam, aku tidak melupakan Firman-Mu.”

Mungkin hari ini ada yang sedang menghadapi pergumulan. Mungkin ada yang sedang menangis dalam diam. Mungkin ada yang sedang memikirkan masa depan keluarga. Mungkin ada yang sedang menghadapi persoalan pekerjaan. Mungkin ada yang merasa doanya belum dijawab. Firman Tuhan hari ini mengingatkan: Jangan lepaskan Firman Tuhan! Perasaan kita dapat berubah. Keadaan dapat berubah. Manusia dapat berubah. Tetapi Firman Tuhan tetap menjadi dasar yang teguh.

  • FIRMAN TUHAN HARUS MENJADI KESUKAAN, BUKAN SEKADAR KEWAJIBAN

Mazmur 119:111 berkata: “Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.” Pemazmur tidak melihat Firman Tuhan sebagai beban. Ia mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah kegirangan hatinya.

Ini menjadi pertanyaan bagi kita: Bagaimana hubungan kita dengan Firman Tuhan? Apakah kita membaca Alkitab hanya karena kewajiban? Apakah kita mendengar khotbah hanya karena kebiasaan? Ataukah kita sungguh-sungguh merindukan Firman Tuhan? Bayangkan seseorang yang mencintai seseorang. Ia tidak merasa terbebani ketika membaca pesan dari orang yang dikasihinya. Demikian pula orang yang mengasihi Tuhan akan belajar mencintai Firman-Nya. Karena melalui Firman, kita mengenal hati Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dicintai, dipercayai, dan dilakukan.

  • FIRMAN TUHAN MENOLONG KITA MEMBEDAKAN YANG BENAR DAN YANG SALAH

Ayat 113–128 menunjukkan kerinduan pemazmur untuk hidup dalam kebenaran dan menolak jalan yang jahat. Dunia tempat kita hidup penuh dengan berbagai suara. Ada suara media sosial. Ada suara teman. Ada suara budaya. Ada suara kepentingan pribadi. Ada suara keinginan hati. Tidak semua suara itu benar. Karena itu kita membutuhkan standar kebenaran.

Firman Tuhan menjadi ukuran untuk menilai: apakah keputusan kita benar, apakah perkataan kita benar, apakah pekerjaan kita benar, apakah cara kita memperlakukan orang lain benar, apakah penggunaan uang kita benar, apakah kehidupan keluarga kita benar, dan apakah kehidupan rohani kita sungguh berkenan kepada Tuhan.

Tanpa Firman Tuhan, kita mudah mengatakan: “Menurut saya ini benar.” Tetapi orang percaya tidak hanya bertanya: “Apa yang saya mau?” Kita harus bertanya: “Apa yang Tuhan kehendaki?” Itulah sebabnya Firman Tuhan harus menjadi standar kehidupan.

  • FIRMAN TUHAN MENUNTUT KETAATAN, BUKAN HANYA PENGETAHUAN

Mazmur 119:127–128 berkata bahwa pemazmur mencintai perintah-perintah Tuhan dan menganggap segala titah-Nya benar. Ini berarti Firman Tuhan harus menghasilkan perubahan hidup. Kita dapat memiliki Alkitab yang besar di rumah, tetapi kalau hidup tidak berubah, Firman itu belum benar-benar kita hidupi. Kita dapat mendengar banyak khotbah, tetapi kalau tetap suka berbohong, memfitnah, menyimpan kebencian, hidup tidak disiplin, dan tidak mau mengampuni, maka kita belum sungguh-sungguh membiarkan Firman menerangi hidup kita.

Terang tidak diberikan untuk dikagumi, tetapi untuk menerangi jalan. Demikian pula Firman Tuhan bukan hanya untuk kita baca, tetapi untuk kita lakukan. Yakobus 1:22 mengingatkan agar kita menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar. Jadi pertanyaannya bukan: “Berapa banyak ayat yang sudah saya hafal?” Tetapi: “Berapa banyak Firman Tuhan yang sudah saya hidupi?”

APLIKASI

Mazmur ini memberi penegasan yang kuat bagi pembacanya bahwa di tengah dunia gelap & penuh tekanan, Firman adalah satu-satunya yang bisa menuntun dan menguatkan kita. Beberapa point penting yang dapat dijadikan pokok perenungan :

  • Jadikan Firman sebagai “GPS HIDUP”. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku… Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang” Masalah kita: Sering jalan tanpa arah. Ambil keputusan pakai perasaan, tren, kata orang. Akibatnya: kita tersandung, salah jurusan, salah pilih pasangan, salah investasi. Oleh karena itu, sebelum melangkah, tanya Firman dulu → Mau ambil kerja? Pacaran? Buka usaha? Cek: “Apa kata Alkitab?” Baca Firman tiap hari seperti cek GPS → 5 menit pagi = “Tuhan, hari ini aku harus belok ke mana?” Terangi 1 area gelap minggu ini → Ada hubungan rusak? Ada kebiasaan dosa? Cari 1 ayat dan taati. Maz 119:133 “Tegakkanlah langkahku sesuai dengan janji-Mu”
  • Bertahan Saat Ditekan & Dianiaya. (Ay. 107, 109, 121-122) “Aku sangat tertindas; ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu… Nyawaku selalu terancam… Aku melakukan keadilan dan kebenaran” Pemazmur sedang difitnah, dikejar musuh, ditekan. Tapi dia tidak balas. Dia pegang Firman. Aplikasi Praktis: saat di kantor digosipkan/difitnah → Jangan balas hoax dengan hoax. Pegang Ams 20:22 “Nantikanlah TUHAN”. Saat ekonomi sulit → Jangan ambil jalan pintas korupsi/suap. Pegang Fil 4:19 “Allahku akan memenuhi”. Saat iman diserang → Dunia bilang “Alkitab kuno”. Jawab dengan hidup: “Lihat buahku” Ingat: Penindasan tidak membatalkan janji Tuhan. Justru disitulah Firman menghidupkan kita (Ayat 107)
  • Cinta Firman Melebihi Harta & Kenikmatan (Ay. 111, 127) “Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya… Sebab itu aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua” Dunia menawarkan: uang, viral, jabatan, kesenangan. Pemazmur bilang: “Aku pilih Firman. Itu harta pusaka.” Aplikasi Praktis: Audit Hati: Apa yang paling saya kejar minggu ini? Like? Uang? Atau ketaatan? Rela “Rugi” karena Firman → Tolak suap walau rugi. Jujur walau tidak naik jabatan. Itu bukti kita cinta Firman lebih dari emas. Warisi Firman ke anak → Ayat 111 “milik pusaka”. Yang kita wariskan bukan hanya rumah, tapi mezbah keluarga & kebiasaan baca Alkitab.
  • Berseru kepada Tuhan dalam Kelemahan (Ay. 123, 125) “Mataku sangat merindukan keselamatan dari pada-Mu… Aku ini hamba-Mu, buatlah aku mengerti… Aku berseru dengan segenap hati” Pemazmur jujur: “Aku capek Tuhan. Aku tidak mengerti. Tolong aku.” Aplikasi Praktis: Doa yang jujur → Tidak perlu bahasa rohani. “Tuhan aku bingung. Beri hikmat Yak 1:5 “Minta “pengertian” bukan hanya “berkat” → Ayat 125. Kadang kita minta jalan keluar, Tuhan mau kasih pengertian dulu. Berseru dengan segenap hati → Ayat 145. Doa bukan formalitas 1 menit. Tapi tangisan anak kepada Bapa. Janji Tuhan: Ayat 116 “Sokonglah aku sesuai dengan janji-Mu, supaya aku hidup”

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak tahu perjalanan hidup kita akan seperti apa. Tetapi kita tahu satu hal: Tuhan tidak meninggalkan kita tanpa terang. Ia memberikan Firman-Nya. Firman Tuhan menjadi pelita bagi kaki kita. Firman Tuhan menjadi terang bagi jalan kita. Firman Tuhan memberikan arah ketika kita bingung. Firman Tuhan memberikan kekuatan ketika kita lemah. Firman Tuhan menjaga kita ketika kita dicobai. Firman Tuhan menegur ketika kita salah. Firman Tuhan menghibur ketika kita terluka. Firman Tuhan menuntun kita sampai kepada kehendak-Nya.

Karena itu, jangan berjalan sendirian. Jangan berjalan hanya berdasarkan perasaan. Jangan berjalan hanya berdasarkan logika manusia. Berjalanlah dalam terang Firman Tuhan. Jika hari ini kita sedang menghadapi jalan yang gelap, peganglah Firman Tuhan. Jika kita sedang bingung mengambil keputusan, carilah kehendak Tuhan melalui Firman-Nya. Jika kita sedang lemah, datanglah kepada Tuhan dan biarkan Firman-Nya menguatkan. Jika kita sedang menikmati kehidupan yang baik, jangan lupakan Firman Tuhan. Sebab: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Kiranya setiap langkah hidup kita diterangi oleh Firman Tuhan, sehingga kita tidak hanya mengetahui jalan yang benar, tetapi juga setia berjalan di dalamnya sampai akhir.

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 6 September 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *