“Jangan Jadi Batu Sandungan bagi Sesama”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Bahan Bacaan : Matius 18 :6-11

PENGANTAR :

Penyesatan adalah proses, perbuatan, atau cara yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menyimpang, berpaling dari jalan yang benar, atau tersesat ke dalam kekeliruan, kebohongan, dan perbuatan dosa. Penyesatan di dalam gereja merupakan suatu dosa yang sangat dibenci Tuhan. Tuhan Yesus memberikan peringatan dengan kata “celakalah!” Ini merupakan peringatan yang sangat keras.

Matius 18:6-11 berisi peringatan keras dari Yesus tentang bahaya penyesatan. Ia menegaskan bahwa merusak kerohanian sesama, terutama orang yang beriman sederhana atau “anak kecil”, adalah dosa fatal. Di mata Allah, setiap jiwa sangat berharga sehingga Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang

Penjelasan Teks:

  1. Ayat 6 : Dosa Paling Berbahaya: MENYESATKANANAK KECIL” “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

3 Kata Kunci:”Menyesatkan” = Skandalizo = jadi batu sandungan, bikin orang jatuh, bikin orang kecewa sama Tuhan. Contoh: Pemimpin gereja selingkuh → jemaat baru bilang “Ah, Kristen juga sama saja”. Orang tua marah-marah di rumah tapi “Haleluya” di gereja → anaknya trauma sama Tuhan. Itu “menyesatkan”.”Lebih baik batu kilangan” = Batu besar yang diputar keledai buat giling gandum. Beratnya 1-2 ton. Mati tenggelam = tidak ada harapan selamat. Di sini, Yesus mau bilang dosa bikin orang lain murtad = lebih parah dari bunuh diri. Karena kamu bunuh iman orang, bukan cuma tubuh. “Anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku” = Targetnya orang yang polos, baru percaya, gampang terluka. Tuhan paling benci kalau “orang kuat” injak “orang lemah” (Yeh. 34:4). Poin utamanya : Di gereja, ada dosa pribadi dan ada dosa publik. Dosa publik = bikin orang lain jatuh. Itu paling berat di mata Tuhan (Yak. 3:1). “Jangan banyak orang jadi guru, karena kita lebih berat dihakimi”.

  1. Ayat 7-9 : SERIUSLAH SAMA DOSAMU SENDIRI “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya … Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah… Lebih baik masuk hidup dengan timpang dari pada utuh dicampakkan ke dalam api kekal. Sampai di sini, “Yesus pindah fokus: “Baiklah, jangan bikin orang lain jatuh. Sekarang bereskan dirimu dulu. “Makna “potong tangan, congkel mata”: Bukan literal. Orang Farisi suka literal → malah jadi ekstrem. Dalam pemaknaan secara lebih luas: “Tangan” = apa yang kamu lakukan. HP, bisnis, relasi yang bikin kamu berdosa & jadi batu sandungan → “potong“. Blokir, unfollow, resign. “Kaki” = ke mana kamu pergi. Klub, nongkrong, lingkungan yang bikin imanmu dingin → “potong“. Stop datang.”Mata” = apa yang kamu lihat. Pornografi, gosip, konten yang merusak imanmu → “congkel“. Pasang filter, hapus aplikasi. Mengapa begitu? Karena “Lebih baik masuk sorga timpang dari pada masuk neraka utuh”. Kekekalan > kenyamanan sementara. Poin utamanya adalah: Kamu tidak bisa jaga “anak kecil” kalau kamu sendiri tidak bereskan dosa yang bikin kamu jatuh. 1 Kor 9:27 “Aku melatih tubuhku… supaya sesudah memberitakan Injil, aku sendiri jangan ditolak”.
  2. Ayat 10-11 “HATI BAPA: MENCARI YANG TERSESAT “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini… Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang. “Setelah teguran keras, Yesus beri alasan kenapa: Karena Bapa di sorga sangat sayang kepada “anak kecil” itu. “Malaikat mereka selalu memandang wajah Bapa” ayat 10 = Anak-anak kecil ini sangat penting di sorga. Ada malaikat yang khusus jaga mereka. Kalau kamu remehkan mereka, kamu remehkan apa yang Bapa jaga. “Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang” ayat 11 = Inti misi Yesus. Dia tidak datang buat orang yang “sudah kuat rohani“. Dia datang cari yang jatuh, yang tersesat, yang dikecewakan orang Kristen. Poin utamanya: Kalau Yesus rela mati buat 1 “anak kecil”, jangan sampai kamu jadi alasan dia tidak mau ke gereja lagi.

MEMAKNAI TEKS :

Penyesatan adalah dosa yang sangat dibenci Tuhan. Karena itu setiap potensi untuk menjadikan kita penyesat harus dipotong dan dibuang. Tetapi apa sajakah yang membuat kita berpotensi menjadi penyesat?

Pertama adalah meninggikan tradisi lebih daripada firman Tuhan. Ini membuat orang menjadi penyesat karena menganggap kebiasaan keluarga, suku, bangsa, tradisi nenek moyang, dan semua kebiasaan-kebiasaan yang dibakukan lebih mengikat daripada firman Tuhan.

Kedua adalah meninggikan kebebasan berpikir. Jika meninggikan tradisi adalah dosa, maka membuang tradisi yang baik juga adalah dosa besar. Tuhan bekerja melalui tradisi yang baik. Gereja mewariskan kebiasaan-kebiasaan baik di dalam berdoa, memuji Tuhan, mendengar firman. Jika ini semua kebiasaan baik ini dihina dan dibuang, maka gereja sedang jatuh ke dalam dosa besar, yaitu menolak pekerjaan Tuhan di dalam sejarah gereja. Ketiga adalah meninggikan diri sebagai pengaruh dan penguasa atas orang-orang yang dipercayakan. Pengajar dan pemimpin yang mau berkuasa atas yang dipimpin pasti akan menjadi penyesat. Mengapa? Karena mereka tidak mungkin bisa mengajarkan kerendahan hati dan kerelaan menjadi hamba kepada orang-orang yang mereka bimbing.

Keempat yang membuat kita menjadi makin jauh dari kebenaran dan makin dekat dengan penyesatan, adalah perasaan merendahkan orang-orang yang di bawah kita. Jika kita menganggap orang-orang yang kita ajar adalah orang-orang bodoh atau orang-orang yang tidak penting, maka kita akan menjadi penyesat yang tidak peduli apa yang akan menjadi nasib akhir orang-orang yang mendengar kita.

Kelima, adalah tidak adanya rasa takut akan Tuhan melalui pengenalan yang sejati akan Tuhan. Semakin kenal Tuhan, semakin takut akan Dia. Semakin kenal Tuhan, semakin mengasihi Dia. Inilah yang benar! Tetapi jika kita tidak kenal Tuhan, kita tidak akan takut akan Dia. Jika kita tidak takut akan Dia, kita akan berani mengatasnamakan Dia untuk ajaran penuh dosa yang kita sedang ajarkan. Jika kita tidak takut akan Dia, kita berani menempatkan diri kita sejajar dengan para penulis Kitab Suci. Kita akan sangat berani mengatakan, “Tuhan berbicara kepadaku…” Tetapi jangan lupa bahwa perkataan ini juga adalah perkataan nabi palsu yang sudah pasti akan binasa di dalam murka Tuhan (Yer. 23:32). Mereka yang tidak takut Tuhan berani memanipulasi nama Tuhan. Mereka pasti akan binasa.

 

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 28 Juni 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *