“Bertekun dan Mengandalkan Tuhan”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Bahan Bacaan : Yakobus 1:2-8
PENGANTAR :
Pada umumnya setiap orang akan berbahagia apabila ia mengalami hal-hal yang baik dalam hidupnya, perjalanan hidup terasa mulus tanpa rintangan dan hambatan yang berarti. Keadaan akan berubah secara drastis ketika berbagai pencobaan terjadi sehingga sulit rasanya menemukan orang yang tetap berbahagia saat itu.
Ketika pencobaan datang kita cenderung tidak bisa menerima keadaan yang ada sehingga respon kita pun lebih mengarah kepada hal-hal yang negatif: marah, kecewa, murung, bersedih, pahit hati, putus asa, tersinggung dan berontak.
Penjelasan Teks:
Ini surat Yakobus yang ditujukan kepada orang Kristen yang lagi “tercerai-berai” (1:1) karena penganiayaan. Hidup berantakan. Kerja hilang. Diusir. Dalam konteks ini, Yakobus membuka suratnya bukan dengan “Kasihan ya kamu”. Tapi dengan: “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan” (ay. 2). Menpa demikian ? Surat ini merupakan penghiburan yang bertujuan untuk mendewasakan iman orang percaya sekaligus untuk beberapa tujuan yang lain yakni :
- Mengubah Cara Pandang (ayat 2-4)
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”Kata kunci: “Anggaplah” = Logizomai = Hitung, buat keputusan. Yakobus tidak bilang “Bersukacitalah KARENA masalah”. Tapi “Bersukacitalah di tengah masalah”. Kenapa bisa bahagia? Karena ada 4 hasil dari ujian:
- Ujian menghasilkan iman yang kuat
- iman yang kuat menghasilkan ketekunan
- Ketekunan menghasilkan kedewasaan
- Kedewasaan menghasilkan kesempurnaan
Iman yang diuji adalah proses pemurnian di mana Tuhan mengizinkan berbagai kesulitan untuk membuktikan keaslian dan mendewasakan kepercayaan Anda. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, ujian bertujuan untuk membentuk ketekunan, memisahkan penyerahan sejati dari emosi sesaat, dan menjadikan karakter rohani Anda semakin kuat. Pertanyaan: Masalahmu sekarang sedang “menghasilkan” apa? Kepahitan atau ketekunan?
- Minta Hikmat, Bukan Solusi Dulu (ay. 5)
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–, maka hal itu akan diberikan kepadanya. “Waktu kena masalah, doa pertama kita apa? “Tuhan keluarkan aku dari sini!” Yakobus bilang: Doa pertama = “Tuhan, kasih aku hikmat di sini” 2 Sifat Allah kalau kita minta hikmat:
- “Memberi dengan murah hati” = Allah tidak pelit. Tidak bilang “Kamu sih”.
- “Tidak membangkit-bangkit” = Allah tidak ungkit dosa masa lalu. Tidak bilang “Ini kan akibat kamu”.
Allah lebih mau memberi hikmat dari pada beri jalan keluar. Karena hikmat bikin kita dewasa. Jalan keluar cuma bikin nyaman sebentar. Hikmat = Kemampuan melihat masalah dari sudut pandang Allah.
- Bahaya Terbesar: Ragu-Ragu (ay. 6-7)
“Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”Ini bagian paling keras.
Apa itu bimbang? Bimbang adalah kegelisahan yang ada di dalam hati atau pikiran manusia, yang berujung pada munculnya banyak pilihan. Mana yhhang harus dipilih, dan apakah yang akan kita pilih sudah benar, kemudian memunculkan kebingungan untuk mengambil keputusan. Seringkali kita beranggapan bahwa menjadi bimbang adalah hal yang wajar dan manusiawi. Kebimbangan bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya karena pengalaman masa lalu, seperti kepahitan, kegagalan, atau trauma. Bisa juga karena takut akan masa depan, seperti takut salah, takut kurang bagus, atau takut gagal, atau takut pada pendapat orang tentang kita. Kemudian ketika kebingungan muncul, terkadang kita cenderung mendengarkan orang lain yang belum tentu benar, sehingga justru membuat kita mengalami kerugian yang lebih besar.
Lalu, apa yang harus kita lakukan saat bimbang? Terutama saat mengambil keputusan penting dalam hidup? Surat Yakobus mengatakan, bahwa sebagai orang percaya hendaknya kita meminta dalam iman kepada Tuhan, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Pertama: tetap bersandar pada Firman Tuhan. Amsal 3:5, ”Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Berusaha dengan kekuatan sendiri sering membuat kita gagal. Saat menghadapi kebingungan berusahalah untuk melakukan apa yang benar sesuai dengan firman Tuhan. Kedua, percaya Tuhan pasti memberi masa depan lebih baik. Percaya berarti menyerahkan sepenuhnya kepada Dia. Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Berserah penuh kepada Tuhan, sebab segala sesuatu yang dari Tuhan adalah yang terbaik, walaupun seringkali tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan kita. Ketiga, melepas apa yang sudah terjadi. 1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Jika ada pengalaman atau trauma di masa lalu yang mengikat dan membuat kita khawatir, lepaskan. Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu, mari terus melangkah maju ke depan. Tetaplah bersandar pada Tuhan, jangan bimbang dan ragu. Lakukan segala sesuatu dengan berani, bersama Tuhan. Ilustrasi “Gelombang Laut”: Didorong ke kanan oleh janji Allah. Didrag ke kiri oleh rasa takut. Akhirnya tidak kemana-mana. Capek sendiri. Akibat orang bimbang ayat 7: “janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan”. Bukan karena Allah jahat. Tapi karena tangannya sendiri menutup berkat. Ibarat ember bocor. Mau diisi air berkat, keluar terus karena ragu.
- Diagnosa Akar Masalah (ay. 8
“Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.” “Mendua hati” = Dipsuchos = 2 jiwa. Skizofrenia rohani. Pagi: “Yesus Tuhanku”. Siang: “Uang Tuhanku”. Malam: “Manusia Tuhanku”. Hasilnya: “tidak akan tenang” = Tidak stabil. Hidupnya naik turun. Hari ini semangat, besok down. Yakobus bilang: Masalahmu bukan masalahnya. Masalahmu adalah hatimu mendua waktu menghadapi masalah.
Penutup:
Ketekunan merupakan sikap bersungguh-sungguh dan konsisten dalam berusaha untuk mencapai tujuan meskipun menghadapi kesulitan, rintangan atau kegagalan. Ketekunan bukanlah hal yang muncul tiba-tiba melainkan melalui proses yang tidak mudah.
- Bersyukur dalam Masalah: Alih-alih bertanya “mengapa ini terjadi?”, ubah fokus Anda pada apa yang bisa dipelajari dari masalah tersebut. Sadari bahwa proses ini sedang membentuk karakter Anda menjadi lebih matang.
- Berdoa Memohon Hikmat: Alamatkan doa secara spesifik kepada Allah, yang memberikan jalan keluar dengan murah hati tanpa memandang kesalahan masa lalu.
- Fokus dan Percaya (Tidak Mendua Hati): Hindari mengandalkan kekuatan manusia atau bersikap plin-plan saat mencari solusi. Berdoalah dengan keyakinan penuh dan serahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan.
- Fokus pada Hasil Akhir (Ketekunan): Ingatlah bahwa ujian iman mendatangkan ketekunan yang membuat hidup Anda utuh dan tidak kekurangan suatu apa pun di kemudian hari.
Allah tidak pernah membuang ujian. Allah pakai ujian. Tujuan Allah bukan bikin hidupmu mudah. Tujuan Allah: bikin kamu “sempurna dan utuh, tak kekurangan suatu apapun”. Jadi waktu badai datang, jangan tanya “Kenapa aku?”. Tanya “Tuhan, ajar aku, bentuk aku. Aku mau percaya, bukan ragu.”
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 12 Juli 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
