“Gereja yang Hadir, Menemani dan Merawat”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Bahan Bacaan : Lukas 10:25-37
PENGANTAR :
Pada dasarnya kita bisa mengatakan bahwa dunia dengan segala peradabannya ini dibangun dalam relasi sosial satu dengan yang lainnya, bukan relasi yang antisosial satu sama lain. Hanya relasi sosial yang terciptalah yang bisa menjadi ladang kasih untuk mekar, sebaliknya relasi antisosial hanya menyediakan ladang kebencian dan permusuhan.
Kisah tentang orang Samaria yang murah hati bermula dari sebuah skenario antipati terhadap Yesus. Ada ahli Taurat, orang pintar Kitab Taurat, mencobai Yesus. Dalam Luk 10:25: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus balik nanya: “Ada tertulis apa?” Ayat 26. Ahli Taurat menjawab : “Kasihilah Tuhan… dan kasihilah sesamamu manusia” (ay. 27). Yesus bilang: “Benar. Lakukan itu, kamu hidup” (ay. 28). Tapi ahli Taurat ini tidak puas. Dia mau “ngeles” (ay. 29): “Tetapi untuk membenarkan dirinya, orang itu bertanya: Dan siapakah sesamaku manusia?” Ini inti masalah manusia: Kita jago soal “kasih”, tapi kita mau membatasi “siapa yang harus aku kasihi”. Yesus jawab bukan dengan definisi, tapi dengan cerita.
Penjelasan Teks:
- Ayat 30 : SI KORBAN – Gambaran Manusia Berdosa “Seorang yang sedang dalam perjalanan… dirampok, dipukul, ditinggal setengah mati”. Dia sementara dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Jalan itu turun 1000 meter, belokan tajam, sarang perampok. Dijuluki “Jalan Darah”. Hal ini memberi gambatan tentang manusia. Itulah. Kita semua “turun” dari Yerusalem yang adalah hadirat Allah, menuju Yerikho yang adalah dunia dosa. Di tengah jalan kita dirampok iblis, dipukul dosa, telanjang, setengah mati rohani. Tidak ada yang bisa menolong diri sendiri. Poin penting: Sebelum jadi “orang Samaria”, kita harus sadar dulu kita “si korban”. Kita tidak lebih baik. Kita juga butuh ditolong Yesus.
- Ayat 31-32 : IMAM & ORANG LEWI – AGAMA TANPA KASIH “Seorang imam… seorang Lewi… melihat orang itu, tetapi melewatinya dari seberang jalan” Ini tamparan keras. Imam itu seorang pelayan Lewi itu pelayan bait Allah. Mereka orang “rohani”, hafal Taurat, sibuk pelayanan. Kenapa mereka tidak menolong? 3 alasan klasik: Takut najis: Kalau dia mati, menyentuh mayat = najis 7 hari, tidak bisa pelayanan Im 21:1. Jadi “ibadah” lebih penting dari nyawa. Takut bahaya: “Jangan-jangan perampoknya masih di semak-semak. Menolong orang = mengorbankan diri sendiri”. Takut repot: “Aku lagi buru-buru ke bait Allah. Nanti terlambat beribadah”. Poin penting: Kamu bisa hafal Alkitab, pelayanan 7x seminggu, tapi kalau tidak punya belas kasihan = kamu “lewat dari seberang jalan”. Agama tanpa kasih = kosong. Yak 1:27 “Ibadah murni = melawat yatim piatu & janda”.
- Ayat 33-35 : ORANG SAMARIA – YESUS YANG TURUN TANGAN “Lalu datang seorang Samaria… tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” Ini plot twist gila. Di mata orang Yahudi, Samaria = musuh bebuyutan, “kafir”, “anjing”. Tapi justru “musuh” inilah yang jadi pahlawan. Lihat apa yang dia lakukan = Ini gambar Yesus: Dia “melihat”: Imam & Lewi juga lihat, tapi Samaria ini “melihat + tergerak”. Matanya tidak cuma baca, hatinya merasakan. Belas kasihan = splagchnizomai = “ususnya sakit”. Dia tidak bisa diam. Dia “mendekat”: Turun dari keledainya. Tidak teriak dari jauh “Semangat ya!”. Dia turun ke lumpur. Fil 2:7 Yesus “mengosongkan diri-Nya”. Dia “membalut”: Tuang minyak + anggur = obat + antiseptik. Itu sakit. Kasih itu tidak cuma peluk, kadang harus bersihkan luka dulu. Dia “mengangkat & merawat”: Taruh di keledainya sendiri. Dia jalan kaki. Kasih itu bayar harga. Dia “bayar di muka”: Kasih 2 dinar ke penginapan = upah 2 hari kerja. Bilang “Kalau kurang, aku ganti”. Kasih itu tanggung jawab sampai tuntas. Poin penting: “Sesamamu manusia” = siapa pun yang Tuhan taruh di jalanmu yang lagi “setengah mati”. Tidak peduli dia seiman, sebangsa, sepaham politik, atau musuhmu.
- Ayat 36-37 : SIAPA SESAMAKU? Yesus tutup dengan pertanyaan balik ayat 36: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan perampok?” Ahli Taurat tidak berani bilang “orang Samaria”. Dia bilang: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan” ayat 37. Yesus jawab: “Pergilah dan perbuatlah demikian!” Yesus tidak menjawab “siapa sesamaku”. Yesus ubah pertanyaannya jadi “kamu mau jadi sesama bagi siapa?”
MEMAKNAI TEKS :
Gereja yang hadir, menemani dan merawat memberi gambaran tentang gereja yang datang menemani dalam pengertian berjalan bersama dengan setiap mereka yang disebut sebagai sesama manusia. Gereja yang merawat adalah gereja dapat memberi pemulihan sampai sembuh. Secara detail dapat diaplikasikan sebagai berikut :
- GEREJA YANG HADIR – memberi gambaran seperti orang yang TURUN DARI KELEDAI (Luk 10:33). Orang Samaria itu melihat “orang yang dirampok itu”. Ia hadir dan memberikan pertolongan. Aplikasi bagi kehidupan jemaat: Hadir ≠ Cuma “ada di absen gereja”. Hadir = “Aku lihat kamu, aku ada buat kamu”.
3 ciri gereja yang Hadir: pertama: hadir di dalam duka, bukan cuma di pesta. Di Ayub 2:13, teman Ayub datang dan selama tujuh hari duduk diam di saat Ayub hancur. Mereka tidak bicara banyak. Mereka cuma hadir. Sementara dalam Roma 12:15 “Menangislah dengan orang yang menangis”. Kedua: Gereja hadir tanpa diundang, seperti orang Samaria yang tidak menunggu si korban berteriak minta tolong. Dia melihat dan langsung bertindak. Gereja hadir = jemput bola. Menelepon jemaat yang 3 minggu tidak ke gereja. Datang ke rumah duka sebelum keluarga minta. Ketiga: Hadir dengan tubuh, bukan cuma doa: Doa penting! Tapi Yak. 2:16 “Jika kamu berkata: Pergilah dengan selamat, kenakanlah pakaian & makanlah, tetapi tidak memberikan apa yang perlu, apa gunanya?” Hadir = datang membawa makanan, membantu meringankan beban, mendampingi ke rumah sakit dan lain sebagainya. Musuh “Hadir”: HP, kesibukan, “bukan urusanku”. Obatnya: Mat 25:40 “Apa yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina, kamu lakukan untuk Aku”.
- GEREJA YANG MENEMANI – Luk 10:34 “Ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, lalu membawanya ke penginapan”. Menemani tidak sama dengan memberi solusi cepat lalu pergi. Menemani = Jalan bersama dalam proses yang dilalui.
3 ciri gereja yang Menemani: pertama: tidak menghakimi, tidak mengguru terlebih dahulu. Si korban dalam keadaan tidak berdaya, Orang Samaria tidak bertanya: “Mengapa kamu jalan malam-malam? Kamu dosa apa?” 1 Tes. 5:14 “Sabarlah terhadap semua orang”. Gereja yang menemani adalah gereja yang bisa memberi “ruang aman” bagi orang yang “jatuh”, bukan ke pengadilan. Gereja yang menemani sama dengan gereja yang bersedia “jalan kaki”: Keledainya diberi ke orang lain. Dia rela tidak nyaman supaya orang lain selamat. Menemani orang depresi, rumah tangga retak, anak narkoba = itu jalan kaki. Lama, capek, berulang. Yesus juga berjalan bersama kita. Maz 23:4 “Tongkat & gada-Mu menghibur aku”. Tidak meninggalkan di tengah jalan. Banyak orang “menolong” di awal, tapi hilang saat proses pemulihan. Menemani = “Aku menemani kamu ke konselor, aku menemani kamu ke pengadilan, aku menemani kamu 6 bulan ke depan”. Ibr 10:24 “Saling memperhatikan supaya kita saling mendorong”. Musuh “Menemani”: Cepat bosan, “sudah aku doakan, urusanmu sama Tuhan”. Obatnya: Gal. 6:2 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”.
- GEREJA YANG MERAWAT – Luk 10:34-35 “Ia membalut luka-lukanya… menyerahkan dua dinar kepada penginap”. Merawat = Pemulihan yang tuntas. Tidak cuma “selamat”, tapi “sembuh”.
3 Ciri Gereja yang Merawat: pertama: merawat lukanya: “Minyak + anggur” = antiseptik + obat. Itu perih dulu baru sembuh. Gereja merawat = berani bicara kebenaran dengan kasih Ef 4:15. Tegur dosa, konseling Firman, doa pelepasan. Tidak cuma “tidak apa-apa kok”. Kedua: Merawat dengan sumber daya: “2 Dinar” = uang, waktu, tenaga, keahlian. Gereja merawat = ada dana diakonia, ada tim konselor, ada tim doa, ada yang jago hukum bantu gratis, ada yang jago masak dan memasak untuk jemaat yang sakit. Kis 4:34 “Tidak ada seorangpun yang berkekurangan”. Ketiga: Merawat sampai “pulih”: Orang Samaria bilang “Kalau kurang, aku ganti”. Dia tidak beri batas waktu. Gereja merawat = follow up. 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun kemudian masih tanya: “Kak, bagaimana keadaannya sekarang? Musuh dari “Merawat”: “Itu urusan pendeta”, “Gereja bukan panti rehabilitasi”. Obatnya: 1 Pet 2:9 “Kamu bangsa yang terpilih… supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan besar-Nya”. Kita dipanggil jadi “rumah sakit lapangan”, bukan “museum orang kudus”.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 21 Juni 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
