“Dewasa Dalam Kristus: Berhenti Terpecah, Mulai Bertumbuh”[1]

Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]

Bahan Bacaan : 1 Korintus 3:1-9

PENGANTAR :

Apa itu kedewasaan ? Secara luas, kedewasaan bukan soal fisik saja tapi juga kematangan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Lebih dari sekadar pertambahan usia, ini adalah proses di mana seseorang mampu mengelola emosi, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan mengambil keputusan secara bijaksana dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Dalam kerangka tema khotbah: Dewasa Dalam Kristus: Berhenti Terpecah, Mulai Bertumbuh, kita mendalami teks 1 Korintus 3:1-9 yang bercerita tentang perselisihan dalam jemaat Korintus. Bagaiman bertumbuh menuju kedewasaan dalam situasi konflik dan pertentangan ?

Penjelasan Teks:

  1. BERHENTI TERPECAH – “LEPAS DARI BAYI” (ay. 1-4)

Di bagian ini berisi teguran Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Ia menyebut mereka “manusia duniawi” atau “bayi dalam Kristus” karena masih dikuasai oleh kedagingan, iri hati, dan perselisihan, sehingga belum mampu menerima pengajaran rohani yang mendalam. Paulus menegur jemaat Korintus karena kedewasaan rohani mereka belum cukup, sehingga ia hanya bisa memberikan “susu” (pengajaran dasar) dan bukan “makanan keras” (pengajaran mendalam). Jemaat Korintus masih diliputi dengan iri hati dan perselisihan, bahkan mereka terpecah dalam kelompok. “Aku tim Paulus, kamu tim Apolos”.

Mengapa sering terjadi perpecahan? Ada 3 penyebab: pertama: Sering memakai standar “duniawi” dan bukan salib. Hal ini ditandai dengan ukuran “siapa lebih hebat, siapa lebih ramai, siapa lebih disukai”. Kedua: makannya “susu”. Susu = ajaran dasar: keselamatan, baptisan. Makanan keras = ajaran kedewasaan: pengampunan, kerendahan hati, kesatuan. Kalau cuma minum susu, tidak kuat hadapi konflik. Ketiga : Fokusnya ke “manusia” dan bukan Kristus. Di ayat 4, Paulus mengecam dengan kalimat “Bukankah kamu manusia duniawi?” Mata mereka ke Paulus/Apolos, bukan ke Kristus. Pola pikir dunia masuk gereja: kompetisi, gengsi, kubu-kubuan. Paulus menegur mereka dengan kalimat: “Kalian sudah bertahun-tahun jadi Kristen, tapi makanannya masih susu. Tidak naik level ke makanan keras” (Ibr 5:12). Gereja yang sehat bukan yang paling ramai, tapi yang paling dewasa. Dewasa itu tidak gampang tersinggung, tidak gampang bikin kubu, tidak gampang iri lihat pelayanan orang lain berhasil.

  1. GEREJA: HARUS BERTUMBUH – “PAHAMI PERAN” – (ay. 5-7)

Gereja adalah persekutuan/kumpulan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Ini bukanlah sekadar merujuk pada bangunan fisik atau tempat ibadah, melainkan pada umat itu sendiri yang dipersatukan dalam iman, kasih, dan pengharapan. Orang yang berkumpul dalam gereja itu datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ini menunjukkan keberagaman. Keberagaman mestinya menjadi kekuatan pelengkap, mendorong dialog inklusif, serta memperluas implementasi Tri Tugas Gereja (Bersekutu, Bersaksi, dan Melayani) di tengah masyarakat majemuk.

Paulus memberi penegasan tentang perbedaan dan keberagaman dengan kalimat. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Paulus memakai bahasa dari dunia pertanian. Paulus: Penanam: Dia yang pertama membawa Injil ke Korintus. Kerja awal: memang susah, capek, ditolak. Apolos: Penyiram: Dia datang kemudian, mengajar lebih dalam, “menyiram” iman mereka. Allah: Penumbuh: Tanpa Dia, tanam + siram = sia-sia. Pertumbuhan itu mukjizat, bukan hasil meeting.

Dari sini, kita menemukan 3 Kebenaran Besar: pertama: Ada pembagian kerja: Tuhan tidak panggil semua orang jadi “Paulus”. Ada yang dipanggil untuk menanam, ada yang siram, ada yang panen. Semua penting. Kedua: Tidak ada bintang: “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama” ayat 8. Upahnya sama. Tukang sapu gereja = harganya sama di mata Tuhan dengan pendeta khotbah. Ketiga: Stop banding-bandingkan: Kalau Allah yang menumbuhkan, mengapa kita meributkan “metode Paulus lebih hebat dari Apolos”? Rumput tetangga lebih hijau karena Tuhan yang siram, bukan karena rumputnya lebih rohani. Oleh karena itu, dalam pelayanan, jangan tanya “Aku bagian apa yang paling kelihatan?” Tapi tanya “Tuhan mau aku ‘menanam’ atau ‘menyiram’ di musim ini?” Setia di bagian kecil = sukses besar di mata Tuhan.

  1. SAMA DAN SETARA (ay. 8-9)

Bagian ini mengajarkan tentang kesetaraan dalam pelayanan. Kesetaraan dalam pelayanan gereja berarti menempatkan setiap jemaat pada posisi yang sama di hadapan Tuhan. Semua anggota tubuh Kristus saling melengkapi. Di kedua ayat ini menegaskan bahwa setiap pelayan Tuhan memiliki peran penting yang sama dan pada akhirnya, hanya Tuhanlah yang memampukan dan memberikan pertumbuhan. Paulus menjelaskan bahwa orang yang menanam (seperti Paulus yang merintis jemaat) dan yang menyiram (seperti Apolos yang membina iman mereka) adalah setara di mata Tuhan. Tidak ada yang lebih hebat dari yang lain. Dalam kesetaraan ini, Paulus menegaskan bahwa setiap orang akan menerima upah dari Allah secara adil, murni berdasarkan usaha dan pekerjaan pelayanannya masing-masing. Di sini kita melihat otoritas Allah berlaku. Hasil akhir Allah yang menentukan upahnya. Karena otoritas itu juga setiap mereka yang melaksanakan tugas pelayanan Tuhan dengan fungsi yang berbeda  disebut sebagai rekan sekerja Allah. Tugas manusia hanyalah mengerjakan bagiannya, sementara hasil akhirnya ada di tangan Tuhan. Mengapa demikian ? Karena jemaat (umat percaya) diibaratkan sebagai “ladang Allah” yang sedang ditumbuhkan dan “bangunan Allah” yang sedang didirikan.

 

MEMAKNAI TEKS :

Nasehat rasul Paulus ini tetap relevan untuk kehidupan orang percaya pada masa kini. Setidaknya ada empat pelajaran penting, yaitu:

  1. Meninggalkan Kedagingan dan Ego >>> Paulus menegur jemaat Korintus karena masih “manusia duniawi” yang ditandai dengan iri hati dan perselisihan akibat fanatisme berlebihan terhadap tokoh tertentu (seperti Paulus atau Apolos). Oleh karena itu, uang, jabatan, atau popularitas pemimpin tidak boleh menjadi sumber perpecahan. Gereja harus berfokus pada Kristus, bukan pada figur manusia atau ego kelompok.
  2. Membangun Kesatuan dan Kedewasaan Rohani: Konflik dan perpecahan adalah tanda kerohanian yang masih kekanak-kanakan. Oleh karena itu, orang percaya mesti terus bertumbuh dalam iman dan menjadi dewasa di dalam Kristus. Orang percaya dipanggil untuk dewasa dalam iman, yang dibuktikan dengan kemampuan hidup rukun, mengutamakan kasih, serta menyingkirkan persaingan yang tidak sehat di dalam persekutuan.
  3. Kesetaraan dalam Pelayanan: Paulus menegaskan bahwa “yang menanam dan yang menyiram adalah sama” (ay. 8). Baik pendeta, penginjil, maupun pelayan jemaat, semuanya hanyalah alat di tangan Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada pelayanan yang lebih tinggi atau lebih penting dari yang lain. Orang percaya mesti bekerja sama dan saling melengkapi, bukan saling bersaing dan terpecah-belah. Semua talenta dan peran saling melengkapi dan memiliki nilai yang setara di mata Allah.
  4. Menyadari Peran Manusia vs. Kuasa Allah: “Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (ay. 9). Manusia hanya bisa menanam atau menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Oleh karena itu, pelayanan harus dilakukan dengan kerendahan hati. Manusia tidak boleh sombong atas keberhasilan pelayanan, karena kuasa dan hasil akhirnya sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Persekutuan yang indah dan utuh adalah persekutuan yang sadar sepenuhnya bahwa Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan. Orang percaya mesti mengakui bahwa Tuhanlah yang memberikan keberhasilan, bukan semata-mata usaha tokoh favoritnya atau hasil upayanya sendiri.

 

[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 14 Juni 2026

[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *