
“Berkat Allah Tritunggal yang Meneguhkan”[1]
Pdt. Karel de Fretes, S. Th[2]
Bahan Bacaan : 2 Korintus 13:11-13
PENGANTAR :
Minggu ini adalah minggu Trinitas yaitu minggu pertama sesudah Pentakosta. Hal ini merupakan perayaan misteri bagaimana Allah menyatakan diri-Nya dan karya keselamatan-Nya. Allah Bapa: Pencipta dan pemelihara alam semesta. Allah Putra (Yesus Kristus): Penebus dan juruselamat umat manusia. Allah Roh Kudus: Penolong, penghibur, dan yang memampukan umat untuk percaya.
Keadaan kota Korintus adalah menggambarkan kota kosmopolitan. Korintus merupakan kota tempat pertemuan dan perdagangan, yang dilengkapi dengan dua pelabuhan besar: Kengkrea dan Lechaion. Yang paling tersohor dari kota ini adalah perilaku moralnya yang buruk. Banyaknya kelab malam dan adanya kuil dewi Aphrodite yang terletak di puncak kota itu, sebagai tempat-tempat yang menyediakan transaksi seksual, menunjukkan perilaku amoral orang-orang yang ada di kota tersebut. Kondisi kota semacam ini, tentu bisa membuat orang-orang Kristen mudah merasakan kecemasan dan kekhawatiran, ketika mereka ingin hidup seturut dengan kehendak Allah. Mereka selalu berhadapan dengan godaan dan bujukan untuk menyesuaikan gaya hidup mereka dengan gaya hidup kota Korintus yang menjauhkan mereka dari kebenaran Allah. Apakah mereka akan larut dalam gaya hidup duniawi kota Korintus ataukah tetap dalam gaya hidup kristiani yang diajarkan Rasul Paulus? Rasul Paulus tidak menghendaki jemaat Kristen Korintus terbawa arus dalam gaya hidup amoral kota Korintus. Rasul Paulus memberi nasihat yang penting di bagian akhir pasal 13 ini. Apa yang dinasihatkan Rasul Paulus? Hiduplah dalam damai sejahtera Allah, maka Allah, sumber segala kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.
Penjelasan Teks:
Kunci Pertama: Hidup yang Bertumbuh dan Sehati – Ayat 11 “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera. ”Paulus mau berpisah, tapi dia tidak titip uang atau program. Dia titip nasehat untuk membangun karakter jemaat. Fokus nasehat Paulus diarahkan pada :
- Bertumbuh bersama dalam kasih, yang akan sangat menguntungkan mereka sebagai sebuah jemaat, atau perkumpulan Kristen.
- Bersukacita : Bukan sukacita karena keadaan enak, tapi karena memiliki Kristus. Bersukacita dalam segala penderitaan dan penganiayaan yang mereka pikul untuk kepentingan Kristus, atau dalam kesusahan dan kekecewaan apa pun yang mereka temui di dunia. Orang yang bersungut-sungut tidak bisa jadi terang.
- Usahakan supaya sempurna: Kata “sempurna” di sini = katartizo = dipulihkan, didewasakan, dipasang kembali. Seperti jala yang robek diperbaiki. Artinya: Jangan puas jadi Kristen bayi. Terus bertumbuh. Terima teguran, jangan alergi dikoreksi.
- Sehati sepikir, hidup dalam damai: Untuk sehati sepikir, yang akan sangat membantu memelihara ketenangan mereka, karena semakin tenang dengan saudara-saudara yang lain maka semakin tenang pula seseorang dalam jiwanya Rasul Paulus menginginkan mereka, sebisa mungkin, memiliki pendapat dan penilaian yang sama. Tetapi, jika hal ini tidak dapat dicapai, Dia menasihati mereka supaya hidup dalam damai sejahtera, supaya perbedaan pendapat jangan sampai mengakibatkan hubungan kasih mereka merenggang, supaya mereka berdamai satu sama lain. Dia ingin semua perpecahan di antara mereka diatasi, supaya tidak ada lagi pertikaian dan kemarahan di antara mereka, untuk mencegah hal-hal yang harus mereka hindari, yaitu perselisihan, iri hati, fitnah, bisik-bisikan, dan hal-hal lain yang sejenis yang merupakan musuh damai sejahtera. Mengapa nasehat ini diberikan ? Karena ini masalah besar di Korintus yang Paulus hadapi. Mereka terpecah karena golongan Paulus, Apolos, Kefas. Paulus bilang: Kalau mau Allah menyertai, bereskan dulu relasi. Tidak mungkin minta berkat tapi hidup dalam gosip dan perselisihan. Sekarang: Cek hari ini. Ada orang di gereja yang kamu hindari? Ada luka yang belum kamu bereskan? Damai sejahtera Allah tidak akan masuk ke hati yang penuh kepahitan.
Kunci Kedua: Persekutuan yang Tulus – Ayat 12 “Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus.” Paulus memberikan arahan kepada mereka supaya memberi salam satu sama lain, dan menyampaikan salam hangat untuk mereka dari orang-orang yang bersama dengan dia (ay. 12). Dia menghendaki supaya mereka memberikan kesaksian tentang kasih mereka satu sama lain dengan tata cara kudus berupa cium kasih, yang kemudian digunakan, namun telah lama tidak digunakan lagi, untuk mencegah segala kesempatan berbuat asusila dan najis, dalam jemaat yang semakin menurun dan merosot akhlaknya.
Cium kudus bentuk sapaan adat Timur Tengah pada zaman gereja mula-mula yang melambangkan kasih persaudaraan murni, kesetaraan, dan perdamaian di dalam Kristus. Praktik ini murni sebagai tanda persahabatan suci tanpa motif romantis atau nafsu. Zaman itu cium pipi adalah sapaan normal antar saudara. Hari ini bentuknya berubah: jabat tangan, pelukan, sapaan hangat. Intinya bukan caranya, tapi ketulusannya. Banyak orang datang ke gereja tapi tidak kenal siapa-siapa. Datang, duduk, pulang. Itu bukan tubuh Kristus, itu penonton. Persekutuan yang tulus itu: Menyapa orang yang jarang disapa. Bertanya “Bagaimana kabarmu?” dan sungguh mau dengar jawabannya. Berdoa untuk saudara yang sedang susah. Sekarang: Setelah ibadah ini, jangan buru-buru pulang. Cari 1 orang yang belum kamu sapa, sapa dia dengan tulus.
Kunci Ketiga: Berkat Trinitas sebagai Janji dan Tujuan – Ayat 13“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. ”Kalau kita jalani ayat 11-12, maka ayat 13 menjadi nyata. Ini bukan 3 Allah, tapi 1 Allah dalam 3 pribadi yang bekerja untuk kita:
- Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus: Dia yang menyelamatkan kita. Kita tidak bisa hidup benar tanpa anugerah-Nya. Setiap hari kita butuh kembali ke salib.
- Kasih Allah Bapa: Bapa yang mengasihi kita seperti anak. Saat kita gagal, Dia tidak buang kita. Dia bapa, yang menerima kita apa adanya dalam status sebagai anak.
- Persekutuan Roh Kudus: Roh Kudus yang mempersatukan kita, menghibur, menguatkan, menuntun. Tanpa Dia, persekutuan kita hanya organisasi. Oleh karena itu: Berkat ini jadi doa harian. “Tuhan, hari ini aku butuh anugerah-Mu untuk tidak marah. Aku butuh kasih Bapa untuk tidak takut. Aku butuh persekutuan Roh Kudus untuk tidak merasa sendiri.”
Dengan cara ini Rasul Paulus menutup suratnya, dan ini adalah cara yang biasa dan pantas untuk mengakhiri perkumpulan-perkumpulan ibadah. Ini membuktikan doktrin Injil dengan jelas, dan merupakan sebuah pengakuan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda, namun satu Allah. Dalam hal ini Mereka sama, bahwa Mereka adalah sumber segala berkat bagi manusia. Ini juga mengisyaratkan tugas kita, yaitu untuk mengarahkan pandangan dengan iman kepada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kita harus hidup dalam penghormatan yang terus-menerus kepada ketiga pribadi dalam Trinitas, yang dalam nama-Nya kita dibaptis, dan dalam nama-Nya kita diberkati. Ini adalah ucapan berkat yang sangat khidmat, dan kita harus benar-benar tekun untuk mewarisi berkat ini. Kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan dengan Roh Kudus: Kasih karunia Kristus sebagai Juruselamat, kasih Allah yang mengirimkan Juruselamat, dan seluruh penyampaian kasih karunia dan kasih ini, yang datang kepada kita melalui Roh Kudus. Persekutuan dengan Roh Kudus-lah yang membuat kita layak untuk mendapat bagian dalam kasih karunia Kristus, dan kasih Allah. Dan tidak ada yang dapat lebih kita inginkan untuk membuat kita bahagia selain daripada kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan dengan Roh Kudus.
MEMAKNAI TEKS :
Bacaan 2 Korintus 13:11-13 mengajarkan tentang nasihat pastoral untuk hidup dalam kasih dan damai, serta diakhiri dengan doa berkat yang sangat terkenal. Dalam konteks ini, kita menemukan beberapa poin penting yang menjadi implikasi praktis:
- “Akhirnya… maka Allah akan menyertai kamu” : Meyakini penyertaan Allah adalah proses membangun kesadaran rohani bahwa Dia senantiasa hadir dan memegang kendali atas hidup Anda, terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan. Sering-seringlah merenungkan dan mensyukuri pertolongan Allah yang telah Anda alami sebelumnya. Ingatan ini akan menjadi fondasi yang kuat saat Anda menghadapi masalah baru. Sadari juga bahwa penyertaan Allah tidak selalu berarti hidup tanpa masalah. Namun, bersama-Nya, Anda tidak akan memikul beban itu sendirian, karena Allah Tritunggal selalu menyertai.
- Bangun relasi dengan sesama dalam ketulusan: Membangun relasi yang tulus berarti berinteraksi tanpa pamrih, menghargai orang lain apa adanya, dan bersikap jujur tanpa manipulasi. Praktik ini menciptakan ikatan yang mendalam dan saling mendukung. Kalau teks ini memamaki narasi cium kudus sebagai tanda menata relasi dalam sentuhan ketulusan, maka berilah salam kepada sesamamu dalam ketulusan. Salam jabat menjadi wujud aktifitas sentuhan yang dilandasi ketulusan. Orang yang mengaku berdamai tetapi menghindar memberi salam menipu dirinya sendiri (tetapi tidak menipu orang lain!)
- Andalkan Tuhan dengan “Berkat Trinitas” – Ayat 13 mengandalkan Tuhan melalui persekutuan Trinitas—Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus—berarti menyerahkan hidup sepenuhnya pada pemeliharaan, penebusan, dan tuntunan ilahi. Mengandalkan Allah Bapa: mengingatkan kita untuk bersandar pada kasih, kuasa, dan pemeliharaan-Nya sebagai Pencipta. Mengandalkan Allah Putra (Yesus Kristus): mengingatkan kita untuk menjadikan teladan kasih, pengorbanan, dan firman-Nya sebagai pegangan hidup utama. Mengandalkan Allah Roh Kudus: mengingatkan kita untuk membuka hati menerima hikmat, penghiburan, dan kuasa yang memampukan kita menghadapi segala tantangan.
- Menata persekutuan dalam ragam budaya: kita akan mengakhiri bulan budaya dalam ragam etnis yang berpadu hari ini dalam persekutuan ibadah. Semua yang bersekutu hari ini dipanggil untuk merawat persekutuan, hidup sehati, dan menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah kemajemukan suku dan budaya. Keberagaman etnis dan adat istiadat, bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan persekutuan yang harus disatukan oleh kasih Kristus. Berkat Allah Tritunggal harus dimaknai sebagai fondasi spiritual yang menyucikan dan meneguhkan identitas budaya jemaat, agar semua kearifan lokal tetap memancarkan nilai-nilai sorgawi.
Allah tidak minta kamu sempurna dulu baru Dia sertai. Dia sertai kamu sambil kamu berusaha bertumbuh & berdamai.
[1] Bahan Pemberitaan Firman – Minggu 31 Mei 2026
[2] Pelayan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah – Klasis Kupang Tengah
